Friday, March 12, 2010

cerpen; Akan Selalu di Hati

Aku tersedu sedan sesaat, melihat ayah dan bunda datang dari kejauhan. Lalu kuhapus air mataku yang mulai menepi, kakiku melangkah menuju mereka yang semakin dekat, dan ku ciumi punggung tangan mereka sebagai tanda hormatku yang sarat. Tangan yang semakin kusut dan tak terawat, urat-urat nakal mulai timbul di kulitnya yang lusuh. Mata mereka yang indah mulai terlihat cekung kehitaman. Seketika aku pamit ke kamar mandi, menangis sesenggukan didalamnya.
Semenjak ayah dan bunda mengunjungiku, nasibku tak kunjung membaik, karena ayah dan bunda hanya memberi sedikit uang untukku, sedangkan uang SPP masih menunggak selama 3 bulan dan terpaksa aku harus mencuci pakaianku sendiri ditengah padatnya waktu yang ada. Terkadang namaku dipanggil ke kantor sekolah, dengan hati-hati Ustadzah menanyakan kapan akan melunasi tunggakan tersebut, aku menjawab dengan mata yang bergetar dan mata yang berair. Aku malu…malu hingga ke ubun-ubun.
Sudah hampir seminggu aku tidak makan nasi. Aku merasa tak enak untuk makan makanan asrama, aku tau diri karena belum membayar SPP, walaupun asrama tidak pernah melarang orang-orang yang menunggak untuk makan, namun aku malu hanya bisa menumpang makan gratis dan tidak pernah membantu kemajuan asrama. Aku banyak sekali berhutang budi pada asrama ini. Aku tak lebih dari seorang gadis yang merepotkan.
Semua begitu sulit bagiku, aku hanya ingin memendamnya dan tak ingin berbagi kesedihan. Air mataku pun terus menetes deras, membuat dadaku sesak. Aku lelah karena hatiku lemah. Semuanya seakan-akan menggerogoti hatiku, mengeroyok perasaanku dan aku hanya diam dalam kesedihan, kesedihan yang tak kunjung hilang. Namun…aku yakin, Allah melihatku, melihat kesedihanku dan akan menggantinya dengan senyuman kebahagiaan.
Terlalu sulit bagiku menahan tangis, aku bosan untuk terus menangis dalam diam. Hatiku ngilu, hatiku protes karna perih…perih yang tak tertanggungkan. Apalagi ketika mendengar keluhan orang-orang itu, rasanya ingin ku maki mereka yang tak bersyukur karena mereka tak pernah tahu bahkan tak ingin tahu bahwa ada seseorang yang lebih menderita dari mereka, mereka tidak merasakan perih yang sedang ku rasa.
Hari ini sangat mendebarkan karena hari ini diadakan ujian untuk beasiswa keluar negri, aku bisa melihat jantung para peserta keluar karena terlalu kencang berdebar atau khayalan-khayalan yang mereka sedang fikirkan. Aku bisa merasakan dinginnya suhu di ruang itu dalam gugupnya para peserta. Lalu ruangan itu seperti mengecil, menghimpit kami yang semakin menciut terbawa suasana dalam ruangan. Detak jantung kami terdengar semakin kencang saat kertas-kertas soal itu dibagikan. 90 menit berlalu, begitu cepat bagai semilir angin yang menerpa wajahku. pengumuman beasiswa ini akan diumumkan saat kami diwisuda. Namun apakah ayah dan bunda akan hadir ? biarlah jika mereka tak hadir, karena aku akan membawa kebahagiaan ke rumah kecil yang sangat kurindu.
*** *** ***
‘’Hari ini kami diwisuda’’ suara merdu nan mengharukan itu dilantunkan laksana denting harpa dari surga yang menyayat hati pendengarnya. Kesedihan dan kebahagiaan bercampur aduk dalam hati. Namun tiba-tiba seperti ada yang menusuk-nusuk dalam dadaku melihat kebahagiaan keluarga yang datang, sedangkan aku sendiri dalam kebisingan, rinduku berdarah-darah dalam luka hati. Pengumuman untuk santri yang mendapat beasiswa akan segera diumumkan, suara detak jantung pun terdengar tak beraturan. Satu persatu nama dipanggil kini telah mencapai urutan ke 8, bayang-bayang buruk mengelilingi fikiranku. Mulutku yang komat-kamit berhenti berdoa. Aku tak punya harapan karena tinggal dua orang lagi yang akan dipanggil namanya. ’’Asyahra putri’’ nama sahabatku dipanggil, dia terlihat senang bukan kepalang, ia taburkan senyum manis yang menghangatkan hati.
Ada secercah kebanggaan melihatnya bahagia. Namun tinggal satu orang lagi yang akan dipanggil namanya. Air mataku membendung menahan tangis perih. ’’santri yang mendapatkan beasiswa dengan nilai tertinggi adalah…’’, mulutku kembali berkomat-kamit tapi bukan doa yang kupanjatkan melainkan ’’ya Allah buatlah aku tuli kali ini’’. Aku tak sanggup untuk mendengarnya, aku mencium bau kegagalan. “Hanan Talida’’. Gemuruh suara tepukan terdengar walau sudah kututup telingaku, tiba-tiba Ara menyenggolku dan berkata ’’ayo maju hana, kamu sang juaranya’’ aku terbelalak tak percaya, air mataku pecah. Perih itu hilang, kini kebanggaan dan rasa lega yang kurasakan, sungguh indah tak terperi… Ayah Bunda, aku akan datang membawa kebanggaan.
*** *** ***
Sesampainya di rumah tak kulihat ada tanda-tanda kehidupan. Rumah kecil itu sunyi sepi. ’’Mana ayah dan bunda’’ batinku. Tiba-tiba mas Bayu datang (tetanggaku) lalu ia berkata ’’ayo ikut aku, ayah dan ibumu telah menunggu’’. Akhirnya aku dibonceng sepeda motor bututnya. Perasaanku mulai resah, aku ingin bertanya kepada mas Bayu tetapi mulutku tetap bungkam. Mas Bayu menghentikan motornya didepan gerbang yang besar diatasnya tertulis ‘’Rumah Sakit Umum Jakarta’’. Perasaan aneh mulai menggerayuti tubuhku, kulalui koridor-koridor rumah sakit itu dengan seribu pertanyaan hati. Diujung depan kamar pasien, kutemukan ayah, ia terduduk tenang dalam diam, menundukan kepalanya dalam-dalam lalu ia memukul-mukul dadanya. Kutatap wajahnya yang tetap diam namun aku bisa membaca raut wajahnya, diraut wajahnya terlihat kesedihan…kesedihan yang mendalam.
‘’Mana bunda’’ batinku bertanya, aku mencari sosok bunda, namun tak ku temukan dirinya disana. Kulihat ada tubuh yang dibalut kain putih di dalam kamar, aku merinding melihatnya. Aku mengenali tubuh itu, tubuh yang selalu membelaiku, tubuh yang sangat kurindu, tubuh yang ingin kupeluk, kubuka perlahan kain putih itu, kudapati wajah bunda yang berseri-seri tapi pucat pasi. Tubuhnya kaku dingin dan lemah. ’’Bunda’’ panggilku lirih, ia masih diam. Air mataku menepi semakin deras hingga ngilu ke ulu hati. ’’Bunda aku mendapat beasiswa, kau tak perlu membiayaiku lagi, uang itu cukup untuk pengobatan ayah ’’ kataku sesenggukan. Ayah menghapus air mataku, ia tersenyum, senyum tergetir yang pernah kulihat. Bunda telah tiada …meninggalkanku untuk selamanya .
‘’Oh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada didalam hatiku…’’.