Thursday, April 22, 2010

Enam tahun yang melelahkan…

Oleh: Darti Nurmaesyaroh dan Nur Aini AB


Ia tak pernah merasa terusik dengan garangnya terik matahari yang tak pernah henti menggarang bumi. Ia tak pernah takut dengan hawa dingin dan derasnya hujan yang tak pernah henti mengguyur bumi Bogor yang terkenal sebagai kota hujan.
Sesosok orang tua yang berusaha mencari nafkah dengan cara yang mulia dan menguntungkan banyak khalayak. Pukul 10 pagi ia beranjak meninggalkan atap rumah dengan semangatnya selama kurang lebih enam tahun lamanya. Tak kenal lelah dan ia tak pernah memandang berapapun pendapatan yang mungkin dapat ia kantongi. Ia tak pernah mengeluh walau kepalanya mulai terasa nyeri atau badannya merasa meriang.
Ialah… sesosok bapak Abdullah, seorang tukang parkir yang beroperasi di daerah simpang tiga karacak Leuwiliang Bogor, yang semangat dan jasanya patut diacungi sepuluh jempol. Seorang tukang parkir yang hanya mendapatkan penghasilan dari kesukarelaan para pengemudi kendaraan yang berlalu lalang. Dan dengan penghasilannya yang sangat minim dan pas-pasan itu ternyata ia mampu menghidupi keluarganya yang dikaruniai tiga orang anak itu. Ia tak pernah mengeluh walau lelah menggerogoti raganya, walaupun kelelahan itu terus-menerus memaksanya untuk beristirahat namun ia tak pernah memanjakan dirinya untuk hanya bermalas-malasan di atas kasur dalam rumahnya. Pernah seketika kami sebagai missi crew dengan sangat berat hati menyita waktunya untuk bertanya sesuatu yang pernah mengganjal di hati kami, "mengapa bapak Abdullah ini tidak memilih pekerjaan yang mungkin penghasilannya dapat lebih mencukupi kebutuhan keluarga ??"dan ia pun menjawab,"saya percaya neng bahwa rizki itu sudah di atur oleh yang di atas, dan walaupun sebagai tukang parkir yang penghasilannya itu berasal dari para pengemudi kendaraan yang berlalu lalang dengan kesukarelaan mereka, yang penting saya menghidupi keluarga saya dengan uang yang di roidhai oleh Allah dan tidak haram. Karena ridha Allah merupakan sebuah kunci bahagia di dunia dan di akhirat".
Subhanallah… bapak Abdullah ini ternyata tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang sedang ia lakoni sekarang. Dan ia pun tak pernah merasa kekurangan dengan penghasilan yang mungkin jauh dari lebih karena ternyata ia mempunyai prinsip bahwa hidup itu bukan untuk berlomba-lomba mencari dan mengumpulkan harta namun, harta benda itu di cari hanya untuk menjadi wasilah untuk mencapai tujuan akhir yaitu ridha Allah swt.

Begitupula dengan ibu Mimi, ia adalah seorang ibu cuci yang telah mengabdikan dirinya untuk membantu pondok bahkan semenjak pondok ini berdiri, saat santrinya hanya berkisar belasan orang. Ia tetap setia dengan pekerjaannya dan tidak ingin beralih karena baginya pondok ini penuh dengan keberkahan dan iapun ingin mendapatkan keberkahannnya. Pekerjaan menjadi ibu cuci memang bukanlah pekerjaan yang mudah, peluh yang mengalir ditengah terik matahari siang dan tergopoh-gopoh mengangkut pakaian saat hujan mulai mengguyur bumi menjadi aktifitas sehari-hari yang tidak bisa ditinggalkan. "saya merasa kesepian " akunya bila saat liburan panjang telah tiba. Ia bercerita panjang lebar tentang perkembangan pondok dari tahun ke tahun semakin berjaya, "mesjid yang sekarang berdiri dulunya adalah sawah milik ayah saya" . Ia melakukan pekerjaan yang terkesan kasar ini karena untuk membiayai ke11 anaknya dan suaminya yang tidak dapat bekerja lagi, namun tidak ada kata lelah dalam kamus hidupnya. Hari-harinya hanya dilewati untuk bekerja dan bekerja. Kehidupan yang begitu sulit, dan ekonomi yang begitu menghimpit tak jadi alasan untuk berhenti bekerja. Tubuh yang renta tua, kulit yang semakin keriput, dan mata yang semakin cekung dibaluti warna kelam dibawahnya, begitulah sosok yang di usia senjanya yang masih terus bertahan hidup dengan bekerja tanpa lelah.
Kehidupan memang begitu sangat kejam,namun jika dunia ini tidak kejam, apakah manusia akan selalu berusaha untuk bekerja keras dalam bertahan hidup?
Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari orang-orang seperti mereka yang hidup dalam himpitan ekonomi namun masih mempunyai semangat yang tinggi untuk selalu merubah keringat mereka menjadi sesuap nasi.