Sunday, August 22, 2010

Ketika membeludaknya santri baru Di Pondok Pesantren Ummul Quro Al-islami


Liputan utama
Oleh : Ihsan Abdul Fattah

Ngantriiii ! itulah kata yang terpikirkan pada penghujung bulan juni kemarin. Bagaimana tidak, betapa banyaknya santri baru yang mendaftar pada periode 2010-2011 dan pesatnya dalam jangka 16 tahun bisa mendapatkan santri sebanyak ini, dari tahun ketahun makin membeludaknya santri dan santriawati Ummul Quro Al-Islami dan begitu banyaknya amanat yang diemban oleh pondok ini karena masih banyak pondok pesantren yang lebih memadai dari pada pesantren Ummul Quro ini.
“Alhamdulillah”, terdengar kalimat syukur akan nikmat yang besar ini dari pengasuh pondok kita, KH. Helmy Abdul mubin, Lc, dengan kesabaran dan tantangan yang beliau emban mulai dari sekadar harapan akan mendirikan lembaga sekolah bertaraf modern hingga tercapainya impian beliau dengan hanya bertawakal kepada Allah SWT. Tak dapat kita bayangkan, dengan hanya bermodal uang Rp 250.000 tetapi bisa mendirikan pondok yang kini bagaikan pondok pesantren modern berlevel tinggi dengan bangunan mewahnya dan kualitasnya yang tak diragukan lagi.
Oleh karena itu jika beliau menceritakan tentang sejarah didirikannya pondok ini beliau tidak bisa menceritakan banyak akan hal itu, karena begitu pahitnya pengorbanan beliau yang tak kenal lelah .
Dimulainya pondok ini hanya memiliki kurang lebih 23 santriawan dan santriawati pada generasi awal. Hingga kini kita dapat lihat sendiri santri bagaikan ribuan semut yang jika dilihat dari kejauhan, hingga segala aktifitas yang dilakukan santri tak lepas dari yang namanya menganteri . Dari mandi, wudlu, mengambil jatah makan hingga membeli makanan harus antri. Akan tetapi janganlah menganggap anteri sebagai alasan kita untuk tidak betah dipondok akan tetapi jadikan anteri itu sebagai pelajaran bagi kita untuk bersabar.
Ketika santri sudah membeludak,local bangunan untuk tempat tinggal dan kelas harus bertambah. Dari kamar yang pada mulanya setiap kamar 30 anak tapi sekarang telah penuh berisikan 50 anak dan begitupun pada bangunan kelas. Hingga sekarang semuannya harus merelakan belajar didepan kamar atau masjid.