Friday, January 22, 2010

Oleh : Aziz Bukhori
Guruku Orang Tuaku
Guruku orang tuaku
Meski ku tak tahu pengorbananmu
Aku selalu menjengkelkanmu
Aku tak sadar
Meski kau memarahiku
Meski ku tahu kau guruku
Tetapi ku anggap kau tiada
Guruku maafkanlah aku
Yang selalu membuatmu marah
Meski ku tahu ku tak minta maafpun kau memaafkanku
Guruku ridhailah aku
Muridmu yang bodoh
Yang mengaku pintar didepanmu
Guruku maafkan aku
Tuk selalu
Terima kasih guruku

Hidup baruku
Oleh: Agung Hardiansyah

Saat kutahu umurku bagai setipis titian benang
Aku mulai sadar
Hidupku ini Dia yang punya
Tak ada sesal dan duka terasa
Hanya didalam hati kurasa sakit dan lara
Seakan jutaan jarum menusukku
Hingga kupikir, biarlah aku saja yang punya
Dan saat kutahu setengah hatiku hilang
Tak kurasa senang
Tak kurasa marah
Dan tak kurasa suka
Kubagi tiga dari setengah itu
Hanya untuk Rabb- ku, Rasul-ku,
dan ibu yang telah melahirkan anak lemah ini
mereka seutuhnya cinta sejatiku.
Sesaat kuteringat ratapan dan tangis terakhirnya padaku
Ridhonya akan aku meninggalkannya
Alhamdulillah, kupuji Allah di tepian setiap nafasku
Aku masih kuat walaupun sendiri

puisi

Ini bukan syair cinta…
Karena aku bukan seorang pujangga…
Bukan pula seorang hawa yang di mabuk asmara…
Aku bahkan tak mengerti…
Akan getar yang menyusup dalam hati…
Entahlah…akupun tak mampu fahami…
Sorot mata yang menerobos bilik hati…
Mencari jawaban yang sampai kini tak mampu kuberi…
Aku tak tuli…aku bisa mendengar dengan pasti…
Setiap ucapan yang ia ucapkan sepenuh hati…
Entah iya…atau tidak…
Sungguh aku tak mampu menjawabnya dengan serentak…
Karena semua ini tak bisa kunalar dengan otak…
Akhi…aku hanya ingin kau mengerti…
Biarlah rasa ini tumbuh sendiri dengan murni…
Mengikuti aturan ilahi…


By; fatahillah

Menggapai Setitik Cinta Hakiki
Oleh : Agung Hardiansyah

Ketika kamu ucapkan, “ ini aku,”
Apakah kamu merasa bahwa kamu hidup untuk sendiri?
Ketika kamu ucapkan ,“ini milikku,”
Apakah kamu merasa bahwa semua yang kamu miliki itu
dari usaha jerih payahmu? apakah kau yang membuat?
Dan ketika kamu diam, orang dihadapan matamu terluka,
Apakah kamu merasa bahwa kamu tak berhak bagi mereka?
Masihkah kamu ikuti apa yang kau pikirkan sedang hatimu enggan?
Kamu bukanlah hamba yang bisa membusungkan dada sesukamu,
Kamu bukanlah pemimpin yang menunjukan telunjukmu akan orang dibawahmu
Kamu hanyalah hamba yang mengisi bumi ini sementara,
Kamu adalah khalifah yang bertanggung jawab akan dunia
sekarang dan masa depan
bukalah hatimu sahabat…
Maka kamu akan rasakan cinta dan kasih sayang yang hakiki.
Cinta Rabb-mu
Cinta orang yang ikhlas akan dirimu.

KEPERGIAN MU

Bayangan mu selalu hadir
Di sela kesepianku
Mungkin ini ke sungguhan cinta
Yang kau persembahkan untukku
Bulan dan bintang yang terangi malam
Tak seterang hatimu
Jernih embun yang sejukan pagi
Tak sejernih cintamu
Kau sungguh berarti disetiap titik langkah hidupku
Namun kau pergi begitu cepat
Tinggalkan hati yang sunyi ini
Ingin rasa ku teriak saat itu
Memanggil dirimu kembali
Ibu…….
Ku merindukanmu
Ingin rasa ku sujud di telapak kakimu
Mencurahkan semua yang membuatku pilu
Ibu……………
Tuhan telah memanggilmu
Ke tempat yang abadi
Hanya air mata dan do’a
Mengirngi kepergiamu
Ibu…….ibu……..ibu…….

Oleh : Wawan S