Thursday, April 22, 2010

Ramadhan dari Waktu ke Waktu

Oleh : Aziz Bukhori

Ahlan wasahlan ya Ramadhan
Ahlan wasahlan ya Ramadhan
Malam yang dingin tidaklah menghentikan gerak langkah kaum muslimin tuk segera bersahur, bagi mereka sahur bukan saja sebagai teradisi dan hokum pada bulan yang suci ini akan tetapi telah menyatu pada hati dan pikiran mereka.
Bulan Ramadhan telah menjadi bulan yang difavoritkan oleh umat islam didibelahan bumi manapun. Bulan Ramadhan telah kita kenal dengan bulan suci ditambah dengan Idhul fitri. Nabi Muhammad dan para sahabat beliaupun telah lama memuliakan bulan Ramadhan, beliau menunggu bulan Ramadhan bagaikan seorang kekasih yang sedang menunggu kekasih yang dicintainya.
Pada zaman Rosulullah bulan Ramadhan dirayakan hanya dengan kederhanaan, mulai dari makan sahur hingga berbuka puasa dengan hanya memakan apa yang mereka miliki saja, hal ini tidak menjadi hambatan bagi kaum muslimin pada zaman itu karena bagi mereka yang terpenting pada bulan Ramadhan bukanlah makanan khasnya atau minuman atau yang lainnya tetapi yang mereka inginkan adalah amal ibadah dan rahmat yang akan Allah berikan pada siapasaja yang beribadah pada bulan Ramadhan, jadi mereka menunggu bulan Ramadhan hanya untuk mencari Ridho Illahi Ribbi. Moment Ramadhan dijadikan mereka sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada sang Khaliq yang menjadikan hati mereka ikhlas dalam beribadahterutama dalam berpuasa, ni’mat dalam beribadah dan ridho akan apa yang telah ditaqdirkan Allah SWT atas mereka. Tidak ada rasa dengki, iri hati dan sombong karena pada bulan itu Allah SWT telah mengunci seluruh syetan-syetan kedalam neraka dan akan ditutupkan seluruh pintu neraka dan pada bulan itupulalah para ahli neraka dikeluarkan dari neraka karena untuk menghormati bulan yang penuh dengan rahmat, kasihsayang dan ampunan Allah SWT. Oleh karena itu bagi seseorang yang melakukan dosa pada bulan Ramadhan itu datangnya bukan dari bisikan syetan tetapi dari hawa nafsu kita sendiri.
Daripada itu coba kita lihat pada zaman yang telah terdominasi oleh moderat dan liberal ini, bulan puasa dijadikan acara perayaan bagi masyarakat, kurma dan kolaq menjadi menu yang harus wajib ndimiliki oleh siapa saja yang berpuasa dibulan Ramadhan bagi yang tidak memilikinya maka belum dikatakan telah menikmaatai bulan Ramadhan, hal ini tentu berbeda dengan zaman Rosulullah SAW yang berbuka puasa dengan ala sekadarnya saja. Bulan puasa menjadi ajang mempertontonkan amal, seperti halnya zakat yang mulai dipertontonkan seakan-akan di melakukannya hanya untuk pamer semata. Partai-partai politik mulai memperlebar sayap=sayap politiknya agar mendapat simpati dari masyarakat dengan cara memberikan berbagai segala macam bahan pangan yang mereka sebut sebagai kepedulian, padahal kita tidak tahu asal darimana itu harta sumbangan.
Para petinggi Negara mulai menikmati bulan Ramadhan padahal masih ada banyak jeritan-jeritan, teriakan-teriakan kelaparan dari rakyat golongn bawah yang hanya bias menunggu janji-janji Negara yang simpang siur kabar beritanya, hal ini sangat berbeda pada zaman kekhalifahan Umar bin Khatab yang tidak bias tertidur karena hanya mendengar lolongan anjing yang kelaparan.