Friday, June 10, 2011

MANUSIA DAN IMPLIKASI PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi”. Mereka berkata,”Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman,”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.
(Al-Baqarah:30-31)
A. Potensi Manusia dan Tugas Kekhalifahan
Di dalam ayat ke 30 surat Al-Baqarah, Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan seorang khalifah di muka bumi. Kata khalifah berasal dari kata khalafayang berarti mengganti dan melanjutkan. Khalifah mengandung arti sang pengganti atau sang pemimpin. Menurut Dr. Abdurrahman Shaleh Abdullah, secara filosofis terdapat tiga pandangan tentang makna khalifah ini. Pandangan yang pertama adalah pandangan yang mengatakan bahwa manusia sebagai spesies telah menggantikan spesies lain yang sejak itu manusia bertempat tinggal di muka bumi. Karena diakui bahwa jin mendahului manusia, maka manusia sebagai pengganti jin.
Sedangkan pandangan kedua menyatakan, tidak perlu mempertimbangkan pendahulu-pendahulu manusia, atau siapa makhluk Allah SWT sebelum manusia di bumi. Kata khalifah secara sederhana menunjuk kepada sekelompok masyarakat yang menggantikan kelompok lainnya. Di antara bukti-bukti yang menunjukkan hal ini, banyak di dalam Al-Qur’an bisa dikutip untuk memperkuat pandangan tersebut, misalnya Q.S. Al-Naml : 62 yang artinya:
“Dia menjadikan engkau pewaris-pewaris di muka bumi”.
Adapun pandangan yang ketiga-dan inilah yang paling tepat-menyatakan bahwa khalifah tidak secara sederhana menggantikan yang lainnya, tapi secara nyata memang benar-benar khalifah Allah yang menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menerapkan ketetapan-ketetapan-Nya di dunia. Tapi hal ini bukan berarti bahwa Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan. Namun lebih karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan. Jadi, kata menggantikan disini lebih kepada arti mewakili.Penafsiran seperti ini disetujui oleh Imam Ar-Razi, Al-Qurthubi, dan At-Thabari.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat ke 30, ketika Allah SWT mengabarkan kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan sosok khalifah di bumi, terlihat sepintas bahwa para malaikat terlihat merasa “keberatan” dengan keputusan tersebut. Hal ini tersirat dari ungkapan mereka,”Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah”. Perlu dicatat, bahwa disini para malaikat berkata dengan menggunakan kata “A” yang berarti ”Apakah”, bukan “li madza” yang berarti “mengapa”. Hal ini mengindikasikan bahwa para malaikat sebenarnya bukan bermaksud memprotes atau merasa keberatan atas keputusan Allah SWT seperti yang kita duga tadi. Para malaikat hanya bertanya kepada Allah karena mereka menduga bahwa sang khalifah ini hanya akan membuat kerusakan dan kehancuran di bumi. Dugaan ini bisa jadi karena mereka menganggap bahwa dunia hanya dibangun dengan tasbih dan tahmid, kata mereka,”Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?”.
Sebagai khalifah, manusia mempunyai tugas dan amanat yang lumayan berat, hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72:
(Arab…….)
“Sesungguhnya Kami telah tawarkan “amanat” itu kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun mereka enggan memikulnya dan mereka khawatir mengkhianatinya. Namun manusia sanggup memikul amanat itu. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh”.
Para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan kata “amanat” yang ditunjukkan ayat ini. Ada yang berpendapat bahwa ia merujuk kepada arti agama atau pengabdian atau perintah Allah. Ada juga yang memahaminya dalam arti akal karena dengannya makhluk /manusia memikul tanggung jawab.
Pada ayat di atas, kita mengetahui bahwa Allah tidak serta merta memberikan amanat tersebut kepada manusia, tapi Dia menggunakan kata ‘aradhnayang bermakna menawarkan sesuatu kepada pihak lain agar ia memilih untuk menerima atau menolaknya. Jadi, ayat di atas mengemukakan satu ilustrasi tentang tawaran yang diberikan Allah kepada yang disebut oleh ayat ini. Tawaran tersebut bukanlah bersifat pemaksaan. Tentu saja siapa saja yang ditawari itu dinilai oleh yang menawarkannya memiliki potensi untuk melaksanakannya. Atas dasar itu, sementara ulama menambahkan bahwa tawaran Allah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung itu, dan informasi-Nya bahwa mereka menolak, merupakan pertanda bahwa sebenarnya mereka semua bukanlah makhluk yang dapat memikul amanah tersebut.Di sisi lain, penyerahan amanah itu--oleh Allah kepada manusia dan penerimaan makhluk ini—menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk menunaikannya dengan baik.
Tujuan informasi ayat di atas tentang penolakan langit, bumi, dan gunung-gunung adalah untuk menggambarkan betapa besar amanah itu, bukannya untuk menggambarkan betapa kecil dan remeh ciptaan-ciptaan Allah itu.
Agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka manusia dibekali dengan potensi-potensi yang berbentuk kemampuan berfikir berupa ‘aql, lubb, fuad, hilm, hijr, dan nuhyah. Menurut para pakar bahasa, istilah ‘aql mengandung pengertian pengetahuan yang jelas atau verifikasi bukti-bukti.‘Aql disini bisa juga berarti kemampuan mengontrol diri.
Lubb berarti esensi sesuatu, yaitu bagian yang paling tinggi dari sesuatu. Sedangkan bentuk jama’nya adalah albab yang terdapat pada 19 ayat. Imam Al-Qurtubi merumuskan kata ulul albab sebagai orang yang merenungi bukti-bukti rasional yang diperoleh dengan penuh kesadaran. Sedangkan Imam Ath-Thabari menganggapnya sebagai kemampuan membedakan antara yang baik dan yang buruk.
Fuad menurut Ibnu Mandzur di dalam Lisan Al-Arabi disebutkan lantaran cahayanya atau kebaikannya. Kata fuad banyak di dalam Al-Qur’an dalam hubungannya dengan penglihatan dan pendengaran. Hampir mencapai 16 ayat, tujuh di antaranya untuk penglihatan dan pendengaran, selebihnya untuk hubungannya dengan mendengar. Sebagian dari jumlah ini menunjukkan sifat psikologis sebagaimana di dalam surat Al-Qashash:10, yang menyebut kondisi psikologis Ibu Nabi Musa yang diungkapkan dengan qalb dan fuad.

Selain potensi yang telah disebutkan di atas, manusia juga dibekali dengan apa yang dinamakan dengan fithrah. Secara lughawi, kata fithrah terambil dari akar kata fathara yang bermaknamenciptakan. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kata fithrah ini. Ada yang berpendapat bahwa fithrah adalah agama Islam, mereka mengatakan bahwa sebenarnya manusia ketika masih berada di dalam rahim ibu telah bertauhid dan mengakui ketuhanan Allah SWT, merujuk kepada surat Al-A’raf: 172. Ada yang mengatakan bahwafithrah disini berarti sifat pembawaan, yaitu potensi-potensi yang dibawa oleh manusia semenjak lahir berupa watak, kecenderungan-kecenderungan, serta karakter.Akan tetapi, Imam Fakhruddin Ar-Razy mengatakan bahwa kedua tafsiran di atas tidak bertentangan malah bisa dipadukan.
Salah satu fungsi dari fithrah ini yaitu untuk mengawal dan mengarahkan kecenderungan-kecenderungan biologis sang khalifah sehingga tidak menyeleweng ke arah yang salah. Hal ini menjadi penting karena pada sisi inilah manusia rentan mengalami kemerosotan yang bersifat moral sehingga seringkali mereka tak ubahnya seperti binatang.

B. Urgensi Pendidikan dan Sosok Khalifah Paripurna
Mengingat besarnya tugas dan amanah yang diemban manusia, serta jati diri dan komponen-komponen sifat dasar/tabiatnya yang kompleks. Maka, disinilah manusia tersebut membutuhkan apa yang dinamakan dengan pendidikan. Pendidikan didefinisikan sebagai proses pendewasaan diri oleh orang yang telah dewasa kepada orang yang belum dewasa. Ada juga yang mendefinisikan pendidikan sebagai proses yang dibangun untuk membawa generasi-generasi yang baru ke arah kemajuan dengan cara tertentu sesuai dengan kemampuan mereka yang berguna untuk mencapai kemajuan yang paling tinggi. Apapun definisinya, yang pasti pendidikan--dalam hal ini Islam—bertujuan untuk membawa manusia menuju kebaikan dunia dan akhirat.
ada beberapa jenis pendidikan yang seharusnya dijalankan guna membentuk sosok khalifah yang hakiki yaitu pendidikan yang bersifat jasmani, ruhani, akal, dan sosial.
Pendidikan jasmani bertujuan untuk membentuk sosok khalifah yang kuat secara fisik, mengingat perannya sebagai pribadi yang berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, serta tugasnya untuk membangun serta memakmurkan kehidupan di bumi yang tentunya membutuhkan kekuatan fisik yang memadai. Lagipula, kebanyakan kewajiban manusia untuk beribadah juga tidak terlepas dari peran fisik, sehingga fisik yang lemah akan dapat menghambat ibadah tersebut. Prinsip kekuatan fisik ini ditunjukkan Al-Qur’an dengan kata basthah fi al-jismdalam surat Al-Baqarah: 127 yang artinya:
“Sesungguhnya Allah telah memilih dia di antara kamu (sebagai raja) atas kamu serta menambahinya dengan ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa (basthah fi al-jism)”.
Sejalan dengan itu, di dalam salah satu haditsnya, Nabi SAW juga menyatakan bahwa seorang mukmin yang kuat lebih dicintai daripada seorang mukmin yang lemah. Jadi, pendidikan Islam dalam hal pendidikan jasmani harus mengacu kepada pemberian fakta-fakta terhadap jasmani yang relevan bagi para pelajar tanpa mengesampingkan nilai-nilai keislaman yang sudah ada.
Pendidikan akal adalah pendidikan intelektual, yaitu bagaimana seorang manusia dapat mempergunakan potensi yang dititipkan Tuhan untuk mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya. Ketika kita berbicara tentang sisi intelektual dalam diri manusia, maka kita diingatkan dengan wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW di gua Hira’ ketika beliau berkhalwat selama 40 hari, berupa surat Al-Alaq:1-5 yang diawali denganperintah yang berbunyi, iqra’.
Kata Iqra berasal dari kata qara’a, yang sering kita artikan dengan membaca. Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab di dalam Tafsir Al-Mishbah, kata qara’a aslinya mempunyai arti menghimpun. Beliau berkata bahwa jika kita merangkai huruf atau kata kemudian mengucapkan rangkaian tersebut, maka kita telah menghimpunnya, yakni membacanya. Dengan demikian, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa kata iqra pada ayat tersebut tidak mempunyai objek sebagai sasarannya, padahal di dalam ilmu tata bahasa Arab, kata qara’a termasuk fi’il mut’addiy yang membutuhkan maf’ul/objek. Dalam hal ini, kaidah kebahasaan menyatakan,”Apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut”. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa karena kata iqra’ digunakan dalam arti membaca, menelaah, dan sebagainya, dank arena objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut meliputi semua yang dapat terjangkau, baik berupa bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, berupa ayat-ayat yang tertulis maupun tidak. Alhasil, perintah iqra mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri serta bacaan tertulis, baik yang suci maupun yang tidak.
Mengacu kepada ungkapan-ungkapan tersebut, maka seharusnya pendidikan lebih menitik beratkan kepada pemahaman yang mendalam, bukan hanya kepada hafalan seperti yang terjadi pada sebagian lembaga-lembaga pendidikan. Ketika seorang pendidik hanya terfokus pada hafalan dan mengesampingkan pemahaman, maka dikhawatirkan akan dapat memunculkan cendekiawan-cendekiawan yang berkarakter burung beo, hanya bisa berteori tanpa bisa memahami apa yang diucapkan.
Pendidikan yang selanjutnya, adalah pendidikan sosial. Manusia, menurut Aristoteles, adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak bisa hidup menyendiri dan pastinya saling membutuhkan satu sama lain. Disinilah letak pendidikan sosial yang bertugas mengajarkan keterampilan-keterampilan dalam bersosialisasi. Keterampilan seperti cara berkomunikasi dan berinteraksi, menumbuhkan rasa persatuan, kasih sayang, dan lain sebagainya sangat penting dikuasai oleh sang khalifah—dalam hal ini manusia—agar dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang makmur dan sejahtera di tengah pluralitas dan kemajemukan individu-individu manusia itu sendiri.Ketika tiga aspek pendidikan ini dapat terlaksana dengan baik dan maksimal, maka saat itulah manusia tersebut dapat menjelma menjadi sosok khalifah yang sempurna, yang nantinya akan dapat mengemban tugas-tugas kekhalifahan dengan baik dan penuh tanggung jawab.Sehingga, diharapkan akan tercipta apa yang disebutkan Allah sebagai baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafuur.
Wallahu A’lam Bish-Showab