Sunday, April 15, 2012

Belajar dari bulan Ramadhan

Aku mengingat masa laluku tentang ramadhan, diman bulan itu adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat islam. Teringat akan peristiwa yang amat sangat berharga untuk hidup yang sekarang ku alami.
Hari itu aku lelah karena memang tugasku bekerja di sebuah perusahaan besar di ibu kota Jakarta, Ku melaju dengan mobilku. Saat itu ku melaju daengan kecepatan diatas rata-rata. Tiba-tiba sesorang melintas didepan mobilku. Tanpa bisa kukendalikan aku menabrak lelaki yang umurnya sudah melebihi batas usia, dia adalah seorang tukang becak. Aku turun dari lajuanku, aku pun memarahinya atas kelalaian yang dia lakukan. Setelah puas memarahinya aku pergi begitu saja meninggalkan bapak itu menuju rumah tanpa meminta maaf terlebih dahulu.


Keesokan harinya, adalah hari ke-29 tepat dimana akan berakhirnya bulan penuh rahmat dan berkah itu. Setelah ku bangun pagi memanjatkan do’a kepada sang pemilik semua ini aku pergi untuk makan sahur dan kewajibanku yaitu shalat shubuh.
Sabtu, memang hari favoritku, karena hari itu hanya setengah hari ku bekerja, Dan sudah seharusnya waktu harus terus bergulir dan berlalu. Selesailah waktuku untuk bekerja, saatnya pulang dan berbuka puasa di rumah bersama orang-orang yang aku sayangi. Aku berjalan keluar gedung dan saat itu aku tidak mengendarai apapun. Aku menaiki angkot dan sampailah di gang yaitu jalan menuju rumahku. Tidak lama kemudian aku di tabrak oleh seorang pengendara motor yang berlaju sangat cepat. Aku terjatuh dan tanganku pun terluka, tapi luka itu tak seberapa hanya tergores sedikit. Orang itu pun memarahiku dengan kata-kata yang sangat tidak sopan. Aku bertanya dalam hatiku “siapa yang salah?”. Saat orang itu pergi aku teringat akan peristiwa yang terjadi tepat kemarin sehabis isya.
. “bapak ini gimana sih.. punya mata gak? Dasar tukang becak tua !!!.
Itulah kata-kata yang tidak sopan untuk dilontarkan kepada seseorang yang lebih tua, dan ucapan itu terlontar dari mulutku tanpa kusadari, sedangkan bapak itu hanya rasa sabar yang terlihat dari raut wajahnya. Dan kini aku sadar aku telah memarahinya dan aku menyesalinya.
Aku pun langsung mencari bapak itu untuk meminta maaf kepadanya dan mengundang agar esok berbuka puasa di rumahku sebagai tanda permintaan maaf dariku.
Hari terakhirdi bulan suci pun tiba, aku sengaja pergi ke toko baju untuk membelikan baju untuk orang di rumah dan bapak itu.
Waktu adzan maghrib pun tiba, bapak itu datang sesuai dengan undanganku dan berbuka puasa bersama . setelah shalat mahgrib aku menuju kamarkumengambilkan baju untuk bapak itu. Dan alhamdulillah ia pun menerimanya dengan wajah yang berseri-seri.
Hari kemenangan pun tiba, segera ku buka mataku dan siap-siap menuju masjid untuk melaksanakan shalat idul fitri. Setelah itu ku temui orang tuaku untuk meminta maaf dan tak lupa untuk bpak tukang becak itu.
Kini aku mengerti apa arti puasa sesungguhnya, yaitu untuk melatih diri kita untuk selalu bersabar walaupun bukan hanya dalam bulan ramadhan .
Hidup ini harus kita jalani dengan sabar dan ikhlas

By : zamiatun [email protected]