Wednesday, April 18, 2012

THE BROADCASTER (Catatan Kecil Seorang Penyiar)

Oleh: Ust. Dicky Mulianto

Kualitas seseorang dapat dilihat dari caranya berbicara (Qoute)
Setelah sekian lama vakum menulis kolom Opini Foto ini, karena beberapa kesibukan yang menguras waktu dan tenaga–sebenarnya  sih karena rasa malas yang sering dominan muncul. Akhirnya, saya bisa juga mengalahkan rasa malas yang tidak produktif tersebut, karena kerinduan untuk menulis lagi dan juga permintaan–mungkin lebih tepatnya “ancaman” dari para pembaca.
Untuk Opini Foto kali ini saya coba menulis tentang kegiatan behind the mic para penyiar radio UQI Fm. Selama kurang lebih satu tahun ini saya “asyik” dengan profesi baru sebagai Penanggung Jawab Operasional Radio, dan secara sukarela merangkap security (sedikit curhat, jujur!!!saya sering tidur di studio) sekaligus cleaning service (kalau yang ini memang hobi) dan karena memang tuntutan pekerjaan sebagai operator–mengharuskan saya menghabiskan sebagian besar waktu di studio untuk mengawasi siaran, agar dapat berjalan dengan lancar–membuat  saya merasa terlibat langsung secara emosional dengan keseharian para penyiar di radio.


Banyak sekali hal-hal menarik yang saya dapatkan selama membimbing para penyiar. Asal tahu saja ya–di luar jam siaran, studio radio berubah fungsinya menjadi sebuah tempat curhat, karena para penyiar sering mengobrol dan berbagi cerita masalah keseharian mereka di sana. Kalau sudah seperti ini, secara diam-diam saya suka “nimbrung” menjadi pendengar ilegal alias “menguping” untuk mengetahui masalah yang mereka hadapi–bukan tanpa tujuan, karena menurut saya seorang pemimpin yang baik harus bisa menjadi problem solver (pemecah masalah) bagi orang yang dipimpinnya.
Permasalahan penyiar yang beragam, melahirkan tangis, tawa, sedih, bahagia,  juga tidak ketinggalan cinta dan konflik dalam persahabatan. Dan semuanya itu, secara indah menjadikan saya sebagai pribadi yang lebih bijak lagi dalam membimbing mereka. Apalagi kalau sudah menghadapi para penyiar putri, yang sering membuat saya merasa serba salah, karena kalau sudah berurusan dengan “mahluk halus” yang sering mengedepankan perasaan ini–kita harus menggunakan perasaan juga, kalau tidak ingin dibilang “kejam”.
Pada dasarnya semua manusia istimewa, karena memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Sama halnya dengan para penyiar radio UQI Fm yang memiliki kepribadian masing-masing, dan kepribadian itu terpancar pada saat mereka berbicara di depan mikropon. Memang benar orang bijak yang berkata “kualitas seseorang dapat dilihat dari caranya berbicara”, jadi, kesimpulannya, menurut saya mudah sekali untuk menilai seseorang mempunyai kualitas atau tidak, cukup dilihat dari kemampuan komunikasinya. Coba perhatikan, hampir seluruh pemimpin di dunia, termasuk presiden pertama kita, Bapak Proklamator Ir. Soekarno–dijuluki seorang orator ulung karena beliau memiliki kemampuan komunikasi yang baik, itu menunjukan kalau mereka memiliki kualitas diri yang baik pula.
Selain harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, seorang penyiar juga harus cerdas menjaga mood-nya, karena kondisi mood yang tidak baik akan berpengaruh kepada kualitas siaran. Pernah beberapa kali saya dapatkan–penyiar tidak bisa menjaga mood-nya, sehingga masalah yang sedang ia hadapi terbawa pada saat siaran, sehingga siarannya menjadi tidak teratur dan kacau balau–kadang-kadang pendengar pun menjadi korban pelampiasan masalahnya. Dan tentu saja, penyiar tersebut akan menjadi korban pelampiasan emosi saya (jangan dibayangkan, gimana cara saya marah!).
Tetapi saya selalu mencoba untuk menyeimbangkan antara punishment dan reward (hukuman & hadiah) untuk memotivasi para penyiar dalam menjalankan tugas siarannya–walaupun sebenarnya sih lebih banyak reward-nya daripada punishment (kalau tidak percaya, tanya saja kepada para penyiar!). Pujian atas hasil kerja yang baik juga adalah salah satu faktor yang dapat mendorong motivasi penyiar, dan dapat dibilang saya adalah orang yang sangat royal dalam memberi pujian (kalau masih tidak percaya juga, saya berani sumpah deh!). Karena saya percaya, kekuatan pujian dapat membuat seorang murid menjadi berprestasi, seorang remaja menjadi lebih percaya diri, bahkan seorang pemalas sekalipun dapat melakukan hal yang berguna.
Di akhir catatan saya yang kecil ini, saya memiliki harapan yang besar bagi seluruh santri untuk terus bersungguh-sungguh mengembangkan bakat dan hobi yang diminatinya. Dan jadikanlah radio sebagai media bagi para santri yang terpilih menjadi penyiar–untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan dalam bidang siaran. Percayalah, karena bakat yang kamu miliki dan hobi yang kamu sukai pasti akan sangat berguna di masa depan nanti.