Wednesday, April 18, 2012

Jahatnya Aku Kepada Orang Tuaku

Namaku Harahap yang lahir dari janin seorang wanita yang sangat aku cintai. Tapi mengapa aku sungguh jahat kepadanya yang telah menyusuiku dari kecil sampai sekarang.Tapi bagai mana caranya untuk mengubah sifatku yang ceroboh ini. Aku ingat apa kata Guru-ku yang berbunyi “penyesalan itu bukanlah di awal, tapi penyesalan itu di akhir”.
Sampai-sampai aku berdo’a kepada Allah. “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku. Aku telah durhaka kepada kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil”. Pada suatu hari Ibuku berkata kepadaku “Rahap, jangan mengambil uang tanpa izin terus-yaa. Kasihan mamah dan ayah yang udah banting tulang mencari rizki cuman biaya kamu” kata Ibu,“iya mamah, insya Allah harahap tidak akan mengambil uang tanpa izin lagi” jawabku anggap enteng.

Tapi mengapa aku tetap mengambil uang di warung orang tuaku, yang selalu ku gunakan  untuk bermain playstation, main facebook di warnet dan lain sebagainya. Sungguh tega diriku terhadap kedua orang tuaku. Semenjak aku seperti itu, aku pernah ke taman bersama ayah. Kemudian ayahku bertanya “Rahap, kamu ngambil uang di warung tidak? Soalnya uang di warung hilang terus” Tanya Ayah sambil keheran-heranan curiga padaku, tidak yah, Rahap tidak mengambil uang di warung” jawabku.
Kemudian Ayah memeriksa ke-dalam kantong celanaku dan dia mengambil uang yang ada di kantong celana kiriku. “Rahap, jangan bohong. Ini uang siapa dan dari mana?” Tanya ayah.
“iya yah, ini uang yang Rahap ambil dari warung” jawabku malu ke-gep ayah.
Akupun dibawa pulang. Seketika itu pula Ibu tengah berdiri di depan rumah dan Ayah langsung menceritakan semuanya kepada Ibu. “Rahap, Ibu kan sudah pernah bilang jangan mengambil uang tanpa se-izin Ayah dan mamah?” tegas Ibu, “Kalau Rahap pengen minta uang, bilang saja. Nanti juga dikasih kalau ada uang” tambah ibu, “terus uang itu dipakai buat apa?” Tanya ibu dan bapak. “untuk jajan dan bermain” jawabku sambil luluh ketakutan, “ya udah, sekarang Rahap mandi dulu” kata Ibu dengan lebut penuh kasih sayang, “iya mah” Jawab ku
Ketika hari menjelma menjadi gelap, langit-langit dipenuhi dengan ribuan bintang. Dimana para manusia meluangkan waktu mereka untuk beristirahat. Akupun tertidur di pertengahan malam terlelap.
Setelah hari menjadi terang, matahari menyorotkan sinarnya ke jagat raya membuat hari menjadi cerah. Akupun terbangun dari tidurku yang nyenyak. Kemudian aku menuju kamar ibuku untuk meminta ma’af atas kejadian kemarin. Mataku terbaba ketika melihat keadaan Ibuku dalam keadaan sakit.
“Rahap, mamah harap kamu mau belajar yang rajin di Pondok. Do’akan selalu Ayah dan mamah agar selalu diberi kesehatan dan dipanjangkan umur Ayah dan mamah. Jika Ayah dan mamah sudah tidak diberi umur lagi, Rahap yang memimpin baca surat Yasin dan tahlil untuk ayah dan mamah” pesan ibu, aku terharu.
Dan aku-pun menjawab lirih sambil menangis “iya mah”, , ,
Lima hari setelah kejadian itu, tiba saatnya aku masuk Pesantren. Akupun diantar oleh keluarga-keluargaku hingga ke dalam Pondok. Perasaanku sungguh tidak karuan. Hatiku seperti terhibur dengan banyaknya kendaraan yang berada di lapangan utama. Setelah ditinggalkan oleh keluarga-keluargaku, hatiku seperti tersayat pisau karena harus ditinggalkan oleh kedua orang tuaku.
Malam Pertama di Pesantren ini, aku merasa kerinduan akan orang tuaku. Aku termenung sendiri. Sungguh aku sangat menyesali perbuatanku yang telah menyakiti perasaan orang tuaku. Aku ingin mentaati semua perkataan Ayah dan mamah.


Oleh : Afif