Sunday, April 15, 2012

Menjemput maut

Di usianya yang sekarang sudah menginjak kepala enam, wanita tua itu kina hanya bisa berharap dan berharap kepada para anak lakinya. Tubuhnya yang kini semakin renta dimakan oloeh usia, hingga mahkota putih yang kini tumbuh lebat menghiasi seluruh kepalanya.
Siti khadijah begitulah kira – kira masyarakat banyuresmi mmanggilnya. Beliau dikenal sebagai seorang yang mudah bergaul , penyabar, dan juga dia juga seorang sosok yang taat beribadah. Beliau dikaruniakan 3 orang anak laki – laki yang diberi nama Amu, Ari dan Ayung. Sungguh suatu tanggung jawab yang sangat besar yang harus ia pikul, tatkala harus menghidupi ketiga putranya seorang diri. Maklum ini terjadi karena sang suami tercinta pergi meninggalkannya untuk selamanya, untuk menghadap illahi rabbi. Sejak kepergian suaminya, Bu Khadijah yang kala itu berusia 35 tahun harus membanting tulang menghidupi sekaligus menyekolahi ketiga putranya tersebut. Akhirnya profesi sebagai pedagang makanan pun harus ia embani demi mengais sedikit rezki. Ibu Khadijah pun harus rela di pagi-pagi buta berperang melawan dinginnya udara yang sampai menusuk tulang rusuknya demi mempersipakan barang dagangannya yang akan dia jajakan di sebuah terminal yang tidak jauh dari lokasi rumahnya. Profesi sebagai pedagang makanan itu akhirnya ibu Khadijah geluti selama 25 tahun. Suatu kurun waktu yang boleh di bilang cukup lama, tapi berkat profesi itulah ibu Khadijah bisa bertahan hidup, sekaligus bisa membiayai ketiga putra-putranya sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Amu, anak pertama bu Khadijah ini akhirnya kini bisa meniti kariernya sebagai seorang direktur di salah satu perusahaan ternama di kota Bogor. Dan Amu inilah satu-satunya anak bu Khadijah yang bisa dibilang paling berhasil sampai-sampai dialah diantara kedua saudaranya yang sudah berumah tangga.
Ari, anak kedua dari 3 bersaudara bu khadijah,kini ia pun boleh dibilang senasib dengan kakanya, Amu. Bagaimana tidak, gelar sebagai salah satu lulusan IPB terbaik disandangnya, yg menjadikannya sebagai seorang dosen termuda seindonesia.
Sedangkan ayum, anak paling bungsu bu khodijah kini tinggal menunggu waktu untuk menyusul kedua kakaknya yang kini sudah sukses dan sekarang ayum sedang melangsungkan ujian terakhirnya disemesterer ke 6 diuniversitas indonesia.
Beruntung sekali bu khadijah memiliki anak-anak seperti amu,ari,ayung.meskipun hidup dalam keadaan perekonomian yang sulit bahkan trkadang mecekik, tetapi mereka masih bisa mengobarkan api semangat merekajikalah belajar dan menuntut ilmu . hingga akhirnya ketiganya bisa merebut prestasi disekolahnya, bahkan mengalahkan teman-temannya yg hidup jauh diatas mereka .
Tat kala ketiga anak bu khadijah ini sukses dibidangnya masing-masing. Sampai-sampai kesibukanlah yang membuat ketiga anak bu Khadijah ini lupa akan jasa sesosok pahlawan dalam kehidupan mereka, yaitu ibunya sendiri. Sungguh teramat sayang tatkala hinga bingar kesibukan aktivitas mereka menjerumuskan mereka kedalam lubang kedurhakaan. Bagaimana tidak, sesosok ibu yang dulu membuainya kini mereka lupakan dan dibiarkan begitu saja. Sehingga diusianya yang sudah menginjak kepala enam, bu Khadijah hanya tinggal seorang diri. Padhal dalam hati bu Khadijah sangat berharap, suatu saat bisa tinggal bersama anak-anaknya yang kini boleh dibilang sukses, tinggal bersama menantu dan cucunya di sebuah rumah mewah mereka. Tapi kenyataannya, bu Khadijah masih saja tinggal di sebuah gubuk tua yang kini semakin reot bahkan roboh sewaktu-waktu nanti.
Hingga akhirnya tatkala penyakit menyelimuti tubuh renta wanita itu. Wanita tua itu pun mencoba menghubungi ketiga putranya dan berharap bisa diantarkan pergi berobat ke rumah sakit, yang berlokasi jauh di tengah kota. Maklum saja, karena parahnya penyakit yang sedang diderita oleh bu Khadijah. Padahal, sebelumnya bu Khadijah sudah berobat ke Puskesmas dekat rumah, tetapi tetap saja tidak membuahkan hasil. Mungkin karena saking parahnya penyakit yang ia derita.
Bu Khadijah pun akhirnya menghubungi anak pertamanya, Amu. Tapi sayang, sang anak sedang di sibukkan oleh pekerjaannya. Rasa kecewa pun sempat terlintas dalam dirinya atas ketidak sanggupan permintaannya, tapi si ibu mencoba tuk tetap mengerti. Lalu bu Khadijah pun menghubungi anak bungsunya, Ayung. Tapi apa dikata, dia pun sama tidak bisa. Tatkala mengetahui jawaban penolakan kedua anaknya, ia pun mulai frustasi, seandainya tidak ada satupun dari anaknya yang bersedia untuk mengantarnya berobat. Tapi syukurlah, tatkala ia menelpon anaknya yang kedua, Ari menyanggupi untuk mengantarkan si ibu tuk berobat. Lalu Ari pun menjemput dan mengantarkannya tuk berobat ke rumah sakit yang berada di tengah kota dengan mobil mewahnya.
Sesampai di rumah sakit, sang ibu pun segera di periksa dan di obati oleh para dokter dan beberapa suster. Untung si ibu tidak terkena penyakit yang amat parah, tetapi seandainya tidak segera di obati, mungkin urusannya akan berbeda. Tapi sayangnya, sang ibu tidak dapat diantarkan pulang oleh anaknya karena kesibukannya, sang ibupun harus pulang sendiri. Akhirnya bu Khadijah pun harus pulang sendiri, tetapi tatkala sedang dalam perjalanan, rasa sakit itu menghampiri tubuhnya kembali. Hingga akhirnya ia tak kuat untuk melanjutkan perjalanannya kembali. Bu Khadijah pun mencoba beristirahat sambil memejamkan matanya dn bersandar di samping jalan trotoar. Hingga akhirnya penyakit itu mengilangkan nyawanya di kala ia sedang beristirahat sambil memejamkan matanya di pinggir jalan troroar.
Abdul Aziz @ 5IPA