Wednesday, April 18, 2012

Persahabatan.

Oleh    : Fraziz El-Bukh

Disenja yang siap hilang termakan malam. Angin sore yang menerbangkan daun-daun yang kering bagaikan suatu untaian nyanyian zaman, kadang ku berpikir akankah aku seperti daun yang kering atau bagai bunga yang mekar indah di musim semi. Benar musim semi, ku usap wajahku dengan lengan bajuku “emm  kotor sekali wajah ku ini pasti karena terkena debu angin”, benar diAmerika sekarang musim semi begitu indah rasanya kalau musim semi disini coba seandainya ada musim semi diIndonesia mukin jauh lebih indah. “emm benar indonesia negri yang teramat luar biasa”. Tit……tit……tit……..kudengar bunyi telponku bordering kencang di ruangan tengah, ku angkat perlahan “hallo”,

“Hi fraziz how are you”,
“sory who is this?”,
“I’m heri as your friend in ummul quro al-islami, do you remembering me”
“Ohh. Subhanallah you’re heri, heri ramadhan from bekasi it’s right?”
“Yes you’re still remember me, now where are you?”
“I’m in USA and you where do you life?”
“I’m in Jakarta, when you came back?”
“I don’t know, may be last summer. If Allah will”
“I hope you to come to my house, see you letter”
”O.K see you latter heri”
Ku ingat wajah temanku yang satu ini, teman satu piring, teman satu gayung dan teman satu bantal. Sakit rasanya kalau mengingat masa lalu.
Ku ingat
 “fraziz ayo cepet entar ketinggalan lo acaranya jadi ga wisuda dah ente he….he…..”. benar! Sekarang adalah acara wisuda ku, ku lirik wajah temanku ada sebuah senyuman, ya senyuman untuk membayangkan kebebasan dan tantangan baru tetapi aku yakin dibalik senyumannya ada suatu kesedihan yang tak terbayangkan. “woi jangan nglamun ntar kesambet lo!”. “tenang aja bos dah ada anti virusnya nih he…h.e..he…”.
“Lo kata computer, dasar!”
“Emang”
“ya udah berangkat yu”. “yooo”.
Ku pandangi wajah sahabatku satu-persatu, ada yang tersenyum bangga karena bisa kuat hidup dipondok selama 6 tahun, ada yang menangis karena belum siap untuk menghadapi suatu perpisahan yang tak mungkin lagi ditolak dan adapila yang takjub tak merasa belajar dipondok selama 6 tahun. Dan aku pun termasuk dari mereka, aku tak merasa sudah 6 tahun disini yang ku rasa bahwa aku baru daftar masuk pondok ini kemarin dan sekarang wisuda sudah ada didepan mata dan juga merasa sedih karena sebentar lagi kita akan berpisah dengan sahabat kita, teman makan, teman sebagian dan teman sekamar teman satu gayung bila mengingat itu hatiku merasa perih ga tega rasanya meninggalkan teman, sahabat dan saudara satu marhalah. Ku ingat ketika teman makanku marak-marah karena tidak ada yang mengambil nasi, kadang kalau sedang mudif makannya wuenak banget tapi kalau lagi kismin makan seadanya malah makan cuman make nasi doank tapi itu terasa beda bila makan bareng ma teman yang dari tidak enak menjadi enak