Wednesday, April 18, 2012

SOSOK PENERANG

Malam yang begitu dingin, dinginnya hingga menusuk tulang rusuk ku, pelita-pelita (kunang-kunang) malampun beterbangan menari-nari diatas pohon yang rindang. Kulihat jam di dinding samping ku menujukan pukul 12:30 WIB malam. Saat aku lihat teman disebelah ku, ternyata dia sudah tidak ada. Aku bertanya-tanya dimana Raihan. Apakah mungkin dia sudah pergi menuju masjid untuk melaksanakan shalat tahajud? Setelah itu aku bergegas memakai baju muslim (koko) lalu bergegas mengambil air wudhu dan menuju masjid. Saat itu aku meliahatnya sedang menangis dalam do'anya akupun mendekatinya. Dia tidak mengetahui kehadiranku disampingnya karena sejak kecil ia tidak dapat melihat dan dia juga mengidap penyakit sirosis hati. Setelah raihan selesai memanjatkan do'a, tiba-tiba dia berkata “siapa disampingku?” Tanyanya. “ini aku Farhan” jawab aku. “Owh Farhan saya kira siapa, ada apa dengan dirimu tidak biasanya kau bangun malam-malam begini?” lanjutnya. “gak ada  apa-apa kok” jawab ku sambil gugup.
Memang diriku tak pernah bangun tidur saat tengah malam. di Pondok Pesantren ini aku termasuk anak yang paling nakal, aku sering melanggar peraturan yang ada. Sampai berkali-kali raihan memberiku nasihat namun nasihatnya tak pernah aku hiraukan.

Ketika matahari menyambut pagi , aku buka jendela kamarku, pelita-pelita malam telah hilang dengan sinarnya. Kini berganti dengan burung yang berkicauwan bagaikan peri-peri kecil yang sedang bernyanyi. “aku mau mandi akh kaya'nya segar bangetnih udaranya” kataku. Saat diriku ingin mengambil gayung ,ternyata gayung milikku sudah tak ada ditempatnya, tiba-tiba Raihan datang “apa yang kau cari Farhan?” Tanya Raihan padaku “apakah kau melihat gayung ku?” balas ku sambil bertanya “Owh, Gayung mu sudah aku letakkan dikamar mandi tiga, aku menaruhnya agar kau tidak mengantri mandi lagi” gumamnya padaku. “jadi begitu, terimakasihyah” papar ku padanya. Dalam hati kecil ku, sebenarnya aku bengga dengan teman ku yang satu ini. Walau pun dia buta dia mampu melakuan kegiatnnya sendiri, akan tetapi akhir-akhir ini dia juga sering mengeluh karena tidak dapat melihat indahnya dunia serta isinya. Aku tidak berani menasihatinya, karena aku melihat diriku yang sangat kotor dan tidak pantas untuk menasehatinya, dalam hati kecilkupun berkata “apakah aku pantas untuk menasehati orang lain yang lebih baik dari ku, rasanya aku bukan siapa-siapa dan aku hanyalah bagaikan semut kecil nakal yang selalu berada dibawah dan kapan saja dapat diinjak dengan mudah”.
Pada siang hari aku bosan berada didalam Pondok, aku ingin keluar menghirup udara segar diluar sana. Namun aku malas untuk mengurusi perizinan yang sangat rumit, karena untuk meminta izin pada Ustadz sangatlah sulit walalupun diberi izin mungkin hanya ada sedikit waktu yang diberikan Ustadz padaku. Akhirnya aku berfikir pendek, akuingin keluar Pesantren dengan cara melarikan diri (kabur) dengan cara meloncati tembok yang menjulang tinggi dibelakang kamar mandi, sebelum meloncati tembok diriku berkata “yah temboknya sudah rapuh jika aku taiki runtuh nggak yah? Ucapku. Tiba-tiba Raihan muncul dan mendengar perkataan ku, saat itu dia sedang ada dibelakang kamarmandi 12, “Farhan, apa yang ingin kau lakukan, jangan keluar Pondok tanpa izin, itu termasuk pelanggaran berat” tungkasnya melarangku. “akhkau jangan ikut campur urusanku, aku ingin bermain diluar sana, refreshing mencari hiburan” balasku padanya.
Mendengar ucapanku, seketika Raihan terdiam tersedu, ku panjat atap kamar mandi, lalu kutaiki dinding yang sudah rapuh tersebut, namun saat ku pegang dinding tersebut, tembok yang menjulang tinggi tersebut runtuh menimpa diriku, setelah itu aku berteriak “ttoolloonngg- ttoolloonngg” teriakku sambil menangis, “suara retruntuhan apaitu?, Farhan apa yang terjadi?” Tanya Raihan. “tembok ini runtuh dan menimpa tubuh ku, tolong aku!!!” balasku tak sadarkan diri.
       Pada saat itu para santri dan para Ustadz-Ustadz berdatangan dan membantuku untuk keluar dari reruntuhan batu-batu dan puing-puing tembok. Tak lama kemudian tubuhku berhasil dikeluarkan, aku dibawa kerumah sakit, keadaanku terlihat sangat parah. Saat aku sadar dari tidur panjangku, serasa ada yang aneh dalam tubuhku, saat aku lihat tangan dan kaki sebelah kanan ku tidak ada aku gemetar gaget luar biasa “dimana kaki dan tanganku yang sebelah kanan?, kenapa tidak ada” ujarku berteriak sambil menangis. Lalu Raihan datang dan menasehatiku “terimalah semua yang ada, apa yang saat ini terjadi biarlah berlalu, semua ini hanyalah ujian dari Allah” ujarnya padaku. Saat mendengar perkataanya bagaikan bisikan malaikat yang membawakan hidayah untukku.
Mulai saat itu, aku sadar akan sikapku yang lalu, namun aku sudah terlanjur berkecil hati aku merasa tak berguna untuk apa hidup dengan satu kaki dan satu tangan, aku memutuskan untuk mengakhiri hidupku dengan cara menodongkan kedua mata dan hati ku kepada Raihan, dan sebelum aku menodongkan keduanya, aku menulis sebuah pesan pada Raihan.
Aku baru menemukan orang baik sepertimu, kau adalah pelita-pelita malam yang selalu menerangi hatiku, namun aku yang tak pernah menghiraukan cahaya-cahaya indahmu, Nasihat-Nasihatmu bagaikan tetesan embun yang begitu dingin. Aku mendorongkan kedua mataku dan hatiku, karena aku ingin berterima kasih padamu, kau telah menjadi matahari dalam pikiranku yang selalu menerangi pikiranku, karena engkaulah yang merubah hidupku, terimakasih wahai pelita kecilku, terimakasih wahai sosok penerangku.!!!
Oleh    : Nur Kholis oNe PK @