Wednesday, April 18, 2012

Surat untuk Ummi

pagi itu….langit begitu cerah, udara terhirup segar. Sesaat dari sudut jendela, kulihat pemandangan yang begitu indah, sebuah gunung yang menjulang tinggi, dan air sungai yang mengalir, pemandangan ini membuatku rileks menikmati hari libur setelah lelahnya menjalani aktivitas di pesantren. Entah mengapa saat itu hatiku dipenuhi rasa rindu yang mendalam. Kepada seseorang aku rindu memandang wajahnya yang bersinar, senyumnya yang manis, dan tutur katanya yang lembut.
    Sesungguhnya aku ingin bertemu dengannya, aku ingin mengutarakan isi hatiku yang telah lama aku pendam, tetapi untuk saat ini bertemu dengannya adalah suatu hal yang sangat mustahil karena kondisinya yang sangat tidak memungkinkan. Suasana kelas yang begitu sepi,,,ku pun duduk seorang diri dengan pena helaian kertas yang ku genggam aku putuskan pagi itu untuk membuat surat.


Ya,,,,sepucuk surat untuk seseorang yang sangat aku cintai yaitu seseorang yang berpengaruh besar dalam kehidupanku, seseorang yang rela berkorban menahan sakit, untuk melahirkanku ke dunia ini, tidak lain adalah ibuku tercinta, sesosok wanita yang tegar, sabar, dan penyayang.
    Di atas kertas putih itu, penaku mulai menari, aku mulai merangkai kata-kata meluapkan segala sesuatu yang terpendam di benakku, ya,,, inilah surat untuk seseorang yang sangat ku rindu, ibuku tercinta….
Kepada Yth
Ibunda tercinta
di
Tempat
Assalamualaikum wr.wb.
    Seiring datangnya surat ini, mudah-mudahan Ummi dalam keadaan sehat wal afiat, mudah-mudahan Ummi masih bisa beribadah dan berdzikir kepada Sang Khalik, sekalipun dengan keadaan yang terpaku lemah.
    Alhamdulillah, anakmu yang hina ini dalam keadaan sehat dan masih bisa menuntut ilmu dengan semangat di penjara suci ini, dan semua ini tidak terlepas dari doamu ini yang selalu engkau panjatkan dalam sholatmu sekalipun dalam keadaan terbaring.
    Ummi,,,Sungguh ananda benar-benar  bingung harus dari mana ananda memulai surat ini, ananda bingung dari kata apa ananda memulai. Ananda tidak bisa membayangkan apakah helaian kertas ini cukup atau tidak untuk mengutarakan isi hati yang ada pada diri ananda.
Ummi,,,kepergian Abi semenjak dua tahun silam tentunya membuat hati ini membuat hari-hari Ummi kesepian, dengan anak-anak yang sudah menikah dan mempunyai keluarga masing-masing, tentunya hal ini pun menampakan rasa rindu Ummi akan kebersamaan dalam keluarga. Tetapi ananda yakin, sekalipun dalam keadaan seperti ini, Ummi masih bisa menghibur diri dengan dzikir-dzikir kepada Rabbul Izzati yang selalu engkau sebutkan melalui lisanmu itu. 
Ummi,,,Ananda tidak menyangka penyakit sroke yang diderita almarhum Abi selama sebelas tahun ternyata penyakit inipun Ummi rasakan pada saat ini. Sungguh ananda tidak kuat menahan air mata yang bercucuran di atas pipi ini. Ketika ananda mendapat kabar bahwa alasannya Ummi divonis mengidap penyakit stroke sama halnya seperti almarhum Abi. Ananda tidak tega ketika Ummi hanya terbujur lemah di atas ranjang dengan alat yang bermacam-macam yang terpasang ditubuh Ummi. Rasanya ananda ingin menggantikan rasa sakit yang Ummi derita, tetapi apa daya, ananda hanya seorang wanita yang lemah. Ananda hanya bisa berdoa akan kesembuhan Ummi. Dan ananda yakin, penyakit yang diderita Ummi ini, dapat meleburkan dosa Ummi yang lalu.
    Ummi,,,denagn penyakit dan umur yang sudah menginjak kepala lima, ananda selalu khawatir akan kehilangan Ummi. Ananda takut kehilangan Ummi, sama halnyakehilangan almarhum Abi. Awalnya ananda selalu mengimpikan ketika wisuda ananda nanti akan hadir kedua orang tua yang menantika kelulusan sang anak, tetapi apa daya takdir sang Khalik tidak bisa dibantah, akhirnya abi meninggalkan kita Ummi….
    Ummi…melalui surat ini, ananda ingin meminta maaf pada Ummi, karena ananda selalu membuat Ummi kesal, masih teringat di rumah sakit ketika Ummi memanggil ananda karena butuh pertolongan tetapi karena bodohnya ananda ketiduran, sampai akhirnya ananda tidak memenuhi panggilan Ummi. Maafkan ananda Ummi, bukan ananda tidak mau membantu Ummi, ananda mengakui ini adalah kesalahan yang besar bagi ananda, karena kesalahan ini, sampai akhirnya terucap kata-kata dari lisan Ummi,
" Dilla, anak Ummi, ingat ! Ummi tidak mengharap kepintaran dari seorang anak, Ummi hanya mengarap anak yang sholehah yang patuh kepada orang tuanya dan kepada suaminya kelak !" ucap Ummi.
Iya ummi, ananda tidak pernah lupa akan pesan Ummi dan ananda benar-benar minta maaf atas segala kesalahan yang telah ananda perbuat. Ananda janji, ananda tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Ummi,,, akhir kata ananda mohon doa dengn ujian yang menghitung hari, ananda juga mohon doa mudah-mudahan ananda dimudahkan dalam menghadapi ujian, dan mudah-mudahan ilmu-ilmu yang telah ananda pelajari di pondok ini, dapat bermanfaat bagi ananda dan bagi masyarakat di masa depan kelak. Tidak lupa, ananda titip salam unutk kakak tercinta yang selalu sabar dan tidak pernah berkeluh kesah dalam menjaga Ummi, dan sampaikan maaf ananda untuknya, karena ananda tidak bisa membantu kakak membantu Ummi, karena ananda mempunyai tuga berat yang harus ananda emban yaitu menuntut ilmu.
    Mungkin ini saja surat dari ananda, mudah-mudahan kondisi Ummi membaik dan bisa sehat seperti semula. Ananda rindu akan senyum Ummi. Senyum yang selalu menghiasi hari-hari Ummi.

Salam Rindu Untukmu

     
   Fadhillah 

BY : Wa'dun_12 Soqul.…