Thursday, April 25, 2013

Temani

Menari di atas lantai dansa. Mendengarkan aliran nada yang begrema membara. Pikiran melayang terbang menuju sanubari. Membentangkan khayalan ke negeri impian. Tapi, itu bukanlah yang Anna rasakan sekarang. Anna menari layaknya orang gila. Melepaskan semua kekesalan dan kekecewaan yang terasa didada. Mencoba menggantikan air mata dengan tarian. Tapi tetap saja, sekeras apa pun Anna mencoba melupakan ayahanda dan ibunda, tetap saja, mereka selalu berlari-lari di alam pikiran.

Sejak tragedi kecelakaan bus yang menimpa kedua orang tua Anna. Hidupnya mulai berantakan. Anna sekarang ini lebih banyak menghabiskan waktunya dikamar. Mengurung diri. Tidak ingin menerima kenyataan yang pahit.

Hiks,, hiks,, matanya masih saja mengeluarkan tetesan air mata. Sejak malam tadi, dia menyalakan musik dengan nada yang keras. Mencoba menari untuk menghilangkan pikiran tentang kecelakaan kedua orang tuanya.

Perutnya terasa lapar, Anna mencoba mencari makanan yang masih tersisa di dalam lemari Es. Hanya ada makanan mentah. Apa boleh buat. Anna harus memasaknya. Menyalakan kompor gas. Panas dunia mulai terasa di kulit Anna.

Sayur-sayuran yang masih tersisa di dalam lemari Es. Bahan mentah yang harus dimasak. Anna belum bisa memasak. Ia sedikit ragu untuk mengiris wortel. Perlahan, Awww. Benar saja. Jari telunjuk Anna teriris. Perih. Anna menghisap jari telunjuknya yang terluka. Ia bergegas bergerak menuju kamarnya. Mencari P3K.

Jari telunjuknya masih terluka. Meneteskan darah. Dilihatnya bingkai foto Anna bersama kedua orang tuanya. Tak kuasa, entah mengapa air matanya masih saja keluar dari matanya yang bengkak karena menangis terus-terusan. Anna mengukir kata perpisahan di kaca bingkai foto.




 “Untuk keluarga yang sangat aku sayang, terima kasih sudah mau mengasuh anak yang kurang ngajar dan susah diatur”. 

Matanya lelah, Anna masih mengantuk. Dia mendekapkan bingkai foto didadanya. Mencoba memasuki alam mimpi.

Arrggghh,, panas,, panas,,,. Hua,, Anna terbangun dari tidurnya. Mengapa hawa disini terasa panas. Anna berlari kelantai bawah. Tapi kobaran api telah memblokade anak-anak tangga. Anna ketakutan. Apa yang harus Anna lakukakn?. Bagaimana ini?. Anna berlari kekamarnya. Mengunci pintu. Dia membuka jendela. Sepertinya dia harus lompat. Anna membuka lagi pintu kamar yang sudah dikuncinya. Api ternyata merayap lebih cepat dari perkiraannya. Anna mengambil bingkai foto. Segera dia bergegas keluar jendela. Ada perasaan takut menyelimuti, tapi Anna sudah tidak ada waktu untuk membuat tali dari seprei. Kobaran api membakar pintu kamarnya. Anna was-was. Dia menutup mata, dan melompat. Semoga Ayahanda dan Ibunda mau menangkap Anna.

Ayah, Bunda, Aku rindu kalian, ajaklah Anna untuk ikut kemanapun kalian pergi. Maafkanlah Anna karena selalu mengecewakan Ayah, dan Bunda. Maafkanlah Anna yang selalu merepotkan kalian. Tangkaplah Anna, dekapkan diri Anna kedalam pelukan kalian. Kumohon.

Anna membuka matanya. Tubuhnya terbaring diatas kasur rumah sakit. Seseorang yang pertama kali Anna lihat. Mengapa bukan Ayah dan Bunda. Kemana kalian? Mengapa kalian tidak mengajak Anna untuk ikut pergi dengan kalian. Anna sudah letih selalu berbuat dosa dan durhaka. Anna sudah capek untuk berbuat dosa.

“Anu, maaf. Kamu sudah sadar?” tanya seseorang yang berdiri di samping ranjang.

“Aku dimana? Diamana Ayah dan Bunda?”

“Sekarang kamu berada dirumah sakit, tulang kakimu patah karena melompat dari lantai dua”

“Rumahku keb,, tidak, bukan, rumah Ayah dan Bunda kebakaran. Mana bingkai foto Ayah dan Bunda?”

“Maaf, rumahmu, pemadam kebakaran sudah berusaha sebisa mungkin untuk menjaga rumahmu dari kobaran api, pemadam kebakaran hanya bisa memadamkan apinya. Rumahnya sudah tidak utuh lagi” 

Pemuda itu mengambil bingkai foto yang tergeletak di atas meja “ini bingkai foto kamu” diserahkannya bingkai foto itu kepada Anna.



“sekarang yang kumiliki hanyalah bingkai foto dan kenangan. Untuk apa aku hidup mengapa aku tidak mati saja?” tetesan air mata keluar dari matanya

“Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini dan lakukanlah yang terbaik. Bukankah kamu masih punya saudara-saudara yang masih menyayangimu?. Lagipula, kedua orang tuamu pasti akan lebih kecewa jika kamu pergi kealam sana dengan sia-sia”

 "Baiklah, tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan?"

 "Apa permintaanmu?"


"Tetaplah disisiku, jangan pernah pergi, jagalah aku agar tidak terjatuh lagi dalam kebutaan" Anna menutup matanya.


1 bulan kemudian 

Anna melambaikan tangan kepada Kakek dan Neneknya. seseorang itu membantunya menggerkan kursi roda menjauh pergi dari rumah kecil tapi Indah. lambaian selamat tinggal. sekarang Anna harus pergi sekolah, ditemani dengan kakaknya.