Tuesday, September 3, 2013

Pesan rahasia di balik turunnya al-qur’an di bulan ramadhan


Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari petunjuk itu serta pembeda (antara kebenaran dan kebathilan)………
(QS.Al-Baqarah:185).
Kata Ramadlan menurut Imam Fakhruddin Ar-Razy dalam At-Tafsir Al-Kabiir terambil dari kata Ar-Ramdlu yang berarti sangat panas. Disebut Bulan Ramadhan, karena bulan tersebut—dengan izin Allah ta’ala—dapat membakar dan menghapus dosa-dosa seseorang, tentunya jika yang bersangkutan melaksanakan ibadah puasa dengan ikhlas pada bulan tersebut. Hal ini sebagaimana sabda nabi SAW:
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan kerelaan, maka dihapuslah dosanya yang telah lalu”.
(Dzurratun Nashihin: Fi Fadhilah Ash-Shaum)
Akan tetapi, pada pembahasan kali ini penulis tidak akan membahas tentang keutamaan puasa Ramadhan atau yang semacamnya, karena hal ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada edisi bulan Ramadhan yang lalu oleh Ust. H. M. Husaini, Lc. Maka, penulis kali ini lebih menitik beratkan pembahasan tentang Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadlan, sebagaimana judul pada ruang tafsir edisi kali ini.
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 185, Allah SWT mengabarkan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada bulan Ramadlan. Menurut Muhammad bin Muhammad Syahab di dalam Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an Al-Karim, bahwa secara etimologis, para ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan kata Al-Qur’an ini.
Sebagian dari mereka, diantaranya Imam Al-Lihyani, berpendapat bahwa kata Al-Quran merupakan kata jadian atau ism mashdar dari kata qara’a, yang berarti bacaan. Kata ini selanjutnya dijadikan sebagai nama dari firman-firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Menurut mereka, penamaan ini termasuk dalam kategori “tasmiyah al-maf’ul bi al-mashdar”. Mereka menyandarkan pendapat mereka kepada firman Allah pada Surat Al-Qiyamah ayat 17-18.

 
Sedangkan sebagian ulama yang lain, diantaranya Imam Az-Zujaj, berpendapat bahwa kata Al-Qur’an merupakan kata sifat, diambil dari kata dasar Al-Qar’u—dengan huruf hamzah—yang artinya menghimpun. Kata ini kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yang menghimpun surat, ayat, kisah, perintah, dan larangan, atau menghimpun intisari kitab-kitab suci sebelumnya.
Penulis mencukupkan pembahasan tentang asal muasal kata Al-Qur’an secara lughawi dengan dua pendapat di atas. Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih dalam tentang hal tersebut, silahkan menelaah kitab Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an Al-Karim, karangan Syekh Muhammad bin Muhammad Syahab, atau Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an karangan Imam Jalaluddin As-Suyuthi
Sedangkan Al-Qur’an menurut istilah, para ulama kembali berbeda pendapat. Penulis sendiri lebih memilih pendapat para ahli fiqh, ushul fiqh, dan bahasa Arab yang menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah:
“Kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, yang lafadz-lafadznya mengandung mu’jizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, diturunkan secara mutawatir, ditulis pada mushhaf, dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan An-Nas.”
Al-Quran merupakan petunjuk bagi manusia menyangkut tuntunan yang berkaitan dengan akidah, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda yang jelas antara yang haq dan bathil.
Kata hudan yang berarti petunjuk pada ayat di atas, merupakan ism mashdar  dari kata hadaa-yahdii. Penggunaan kata hudan ini sebenarnya bisa dikaitkan dengan kata hidayah, karena memang bermuara kapada akar kata yang satu, yaitu hadaa-yahdii tadi. Pemilihan kata hudan atas hidayah di antaranya adalah untuk menegaskan bahwa petunjuk yang dimaksud oleh ayat tersebut telah mencapai kesempurnaan. Dan karena petunjuk tersebut telah sempurna, maka tidak perlu lagi ada kitab suci lain yang berisi tentang petunjuk yang serupa.
Pada ayat di atas, kita menjumpai bahwa petunjuk tersebut dimaksudkan untuk seluruh umat manusia, yang tersirat dari lafadz An-Nas yang dalam kaidah bahasa Arab merupakan ism jama’ taksir yang menunjukkan pengertian plural. Akan tetapi, pada ayat yang lain, yakni surat Al-Baqarah ayat 1 dijelaskan bahwa petunjuk yang ada di dalam Al-Qur’an adalah untuk orang-orang yang bertakwa (hudan lil muttaqin).
Sepintas, kita melihat adanya kontradiksi antara ayat 1 dengan ayat 185 pada surat Al-Baqarah tersebut. Akan tetapi, jika kita telusuri lebih dalam, maka kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa, Allah memang memberi petunjuk kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali, sebagaimana yang ditunjuk oleh ayat 185, karena Dia tidak membeda-bedakan hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, yang mau dan mampu untuk menerima dan memahami serta mangamalkan petunjuk tersebut hanyalah orang-orang yang bertakwa sebagaimana ditunjukkan oleh ayat 1 di atas. Nah, hal ini pun berbanding lurus dengan tujuan puasa pada bulan Ramadhan, yaitu untuk membentuk seorang muslim yang bertakwa sebagaimana pada ayat 183 surat Al-Baqarah, la’allakum tattaquun.
Takwa sendiri mencakup 3 hal. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, yaitu yang paling tinggi, adalah menghindar dari segala yang dapat menjauhkan pikiran dari mengingat Allah SWT. Tiga hal inilah yang hendak dicapai dengan puasa, karena ketika seseorang melakukan puasa, dia menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang buruk (takhalli), dan di saat bersamaan berusaha untuk memaksimalkan ibadah kepada Allah SWT (tahalli). Sehingga, hatinya menjadi suci dan bersih dari segala noda yang menghijabnya.  Dan ketika hati telah bersih dari noda, cahaya Allah berupa petunjuk akan memenuhi hati orang tersebut (tajalli).
Sejalan dengan hal tersebut, Sayyid Quthb memperoleh kesan dari penyifatan Al-Qur’an dengan hudan lil muttaqin, antara lain bahwa barangsiapa yang ingin mendapatkan hidayah Al-Qur’an hendaklah dia mendatanginya dengan hati yang bersih dan tulus. Ia harus menemuinya dengan hati yang takut lagi bertakwa dari siksa Ilahi, dan berhati-hati sehingga tidak berada dalam kesesatan atau terpengaruh olehnya. Nah, ketika itulah akan terbuka rahasia dan cahaya Al-Qur’an yang akan tercurah pada hati seperti tersebut di atas.
Oleh sebab itu, selama bulan Ramadhan kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan konon Nabi Saw selalu memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan ini dan beliau juga  bertadarrus dengan Jibril Alaihissalam setiap malam dibulan Ramadhan (HR. Bukhori bab Bad’il wahyi).
Abdulloh Ibnu Aljarullah berkata, dari ayat diatas menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur’an dan berkumpul untuk membaca Al-Qur’an dan juga dianjurkan untuk memperbanyak bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Disunnahkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Moment Ramadhan seharusnya dapat digunakan oleh kaum muslimin untuk kembali menghidupkan Al-Qur’an, bukan hanya sekedar membacanya semata akan tetapi juga harus disertai dengan penghayatan akan maknanya. Para generasi terdahulu (salaf) memiliki kepribadian yang tinggi ketika membaca Al-Qur’an, berbeda dengan generasi sekarang ini yang membaca Al-Qur’an tanpa memberi kesan yang berarti. Ini berarti suatu kedzaliman terhadap Al-Qur’an sebagaimana dipaparkan oleh Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Berdialog dengan Al-Qur’an halaman 19. Pola hidup Qur’aniy ini pernah tergambar dari pribadi Rasulullah Shalallahu alahi wasallam, beliau merupakan manifestasi nyata dari penjelasan Al-Qur’an, beliau adalah visualisasi konkret dari Al-Qur’an. Sayyidah A’isyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW dan beliau menjawab,
ان اخلاقه هو القرأن
Sesungguhnya akhlak beliau adalah Al-Qur’an (Shahih Muslim, Bab Shalat Al-Musaffirin).
Oleh sebab itu Imam Syafii pernah berkata,” Sunnah adalah pemahaman Nabi sendiri terhadap Al-Qur’an yang benar-benar dijadikannya sebagai pembimbing hidupnya lahir dan bathin.”
Kejayaan umat terdahulu adalah dari pengamalan mereka terhadap nilai-nilai Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya dibaca, namun lebih dari itu mereka merenungi maknanya untuk kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Seharusnya hal ini juga dapat diterapkan oleh kaum muslimin dewasa ini. Sebab Al-Qur’an adalah mukjizat Nabi, yang berisikan tema-tema terbaik dalam masalah pendidikan umat, peradaban dan akhlak mulia. Bangsa Arab waktu itu benar-benar mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dalam arti disamping mereka melantunkan Al-Qur’an dengan penjiwaan juga mereka terapkan kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan mereka, sehingga mereka menjadi bangsa yang beradab meskipun awalnya mereka adalah komunitas barbar.
Terkait dengan hal ini, Rasulullah Saw bersabda :
مثل المؤمن الذي يقرأ القرأن كمثل الاتروج  طعمه حلو  وريحه طيب.)رواه مسلم(
“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an itu seperti jeruk manis, rasanya manis dan baunya harum.” (HR Muslim)
Maksud dari hadits di atas adalah seseorang yang membaca Al-Qur’an dan dapat mengamalkan kandungannya dengan baik, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi mukmin yang shalih yang berakhlak dengan Al-Qur’an sehingga ia akan dapat memberikan manfaat kepada siapapun orang yang ada disekitarnya. Suaranya yang merdu ketika melantunkan Al-Qur’an berbanding lurus dengan prilakunya yang qur’aniy, inilah mukmin jeruk manis.
Berangkat dari keinginan mengembalikan dan memasyarakatkan Al-Qur’an, Syaikh Ali Ash-Shobuniy dalam At-Tibyan Fi Ulumil Qur’an berkata:
من لم يقرأ القرأن فقد هجره, ومن قرأ القرأن ولم يتدبر معانيه فقد هجره, ومن قرأه وتدبره ولم يعمل بما فيه فقد هجره
”Siapapun yang tidak membaca Al-Qur’an maka ia telah menyia-nyiakannya, siapapun yang membaca Al-Qur’an dan tidak mau merenungi makna-maknanya maka ia telah menyia-nyiakannya, dan siapapun yang membaca dan menghayati makna Al-Qur’an namun tidak mengamalkan isinya maka ia telah menyia-nyiakan Al-Qur’an”. ( Ash-Shobuni, At-Tibyan, 10).
Al-Qur’an memang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk bagi manusia, dan Al-Qur’an hanya akan dapat berfungsi sebagai petunjuk apabila kita mampu mengetahui kandungannya dan dapat menangkap pesan-pesan yang disampaikannya.
Wallahu a’lam Bi Muradih