Tuesday, September 3, 2013

SENSASI SANTRI

            Seperti biasa Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami mengadakan acara tahunan yang berupa Porseni (Pekan Olah Raga Dan Seni) sebagai pengenalan kepada santri baru agar mereka bisa mengapresiasikan bakat mereka dalam acara ini. Biarpun Porseni tahun ini berdekatan dengan bulan suci Ramadhan, tapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk mengapresiasikan bakat mereka. Terbukti, banyak dari mereka yang antusias berpartisiapsi dalam mengikuti serangkaian lomba yang ada.
            Memang fakta yang ada membuktikan bahwasanya mayoritas dari santri memiliki antusiasme tinggi untuk mengapresiasikan bakat mereka dengan berbagai macam lomba yang ada, tak sampai disana saja, dari berbagai macam ekstrakulikuler yang adapun tidak pernah ketinggalan sebagai pengisi kekosongan waktu mereka.
            Dari fakta tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwasanya santripun memiliki jiwa seni yang tinggi walau pada dasarnya santri lebih condong dengan pengajaran ilmu-ilmu keagamaan serta ibadah amaliah, tapi disitulah kita dapat menemukan sebuah bukti bahwasanya santri memiliki banyak kelebihan dapat menjiwai seni dengan mendalam.
            Dengan semua kelebihan yang dimiliki santri, kita dapat mengetahui sejauh apa perkembangan sebuah lembaga pendidikan khususnya pesantren sebagai lembaga pendidikan bagi para santri, akan tetapi, apakah kita mengetahui definisi dari seni itu sendiri ..? apakah kita dapat menerapkanya dalam kehidupan kita ..?
            Segala sesuatu yang dikatakan seni, itu adalah sesuatu yang mengandung keindahan. Semua yang dapat dirasakan oleh manusia bahwasanya itu indah untuk dilihat, nyaman didengar, dan bergetar pada hati seseorang itu adalah seni. Dan pemaknaan seni begitu banyak, juga dapat di maknai bagi para pecintanya.
            Dapat diartikan segala sesuatu yang indah adalah bagian dari seni. Dan Allah menyukai keindahan yang berujung pada ibadah seorang hamba, karena Allah itu indah, dan ia menyukai keindahan.
           Berbagai keindahan yang tercipta di atas bumi ini, yang teraplikasi pada setiap aktivitas manusia. Kesenian. Berbagai kesenian terlahir dari otak manusia. Setiap kesenian yang terlahir bermuara pada berbagai aspek. Salah satunya seni tersebut tercipta karena individual yang merasa nyaman melakukan hal itu. Juga sebagai sarana penyebaran agama yang banyak dilakukan.
            Jelas dirasakan apabila seni digunakan sebagai magnet agar orang lain melaksanakan aktivitas spititual penyebar atau sebagai alat penyebaran agama. Penggunaan seni sebagai magnet spiritualitas sangat tepat. Nyata dirasakan, di Indonesia sejak awal penyebaran agama Islam oleh para Wali Songo yang tak langsung menerangkan Islam, melaikan pertama menarik masyarakat menggunakan kesenian perwayangan.

TENTANG SENI DAN SPIRITUAL
           
            Manusia didunia ini pasti tak akan pernah lepas  dengan sensasi-sensasi yang berbau seni dan spiritual. Seni, apakah itu suatu yang indah ataukah lain dari yang lain. Setiap manusia memiliki kaca perbandingan masing-masing untuk menilai seni apa yang mereka maksud. Begitu juga dengan hal yang berbau Spiritual atau kejiwaan manusia. Orang-orang bisa dengan bebas memilih jenis spiritual apa yang dapat memberikan mereka ketenangan jiwa dan batin. Biarpun hanya satu yang dapat kita jadikan titik pusat sebagai kepercayaan kita.
            Seni Dan Spiritual, dua kata yang memiliki keterkaitan yang kuat. Sebagaimana kita tahu, Seni adalah keindahan, dan semua yang tercipta di dunia ini mengandung unsur seninya masing-masing. Sang maha pencipta menciptakan dunia ini dengan keangeragaman bentuk dan rupa. Sedangkan spiritual, dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakana berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan rohani dan batin. Spiritual, itu berarti pendekatan diri kita kepada sang maha kuasa untuk mendapatkan ketenangan jiwa.
            Dr Ali Shariati, seorang intelektual Muslim, pernah mengatakan bahwa: Manusia adalah mahluk dua-dimensi yang membutuhkan penyelarasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat.
            Seseorang yang memiliki dunia saja tidak akan cukup, bagai lukisan indah yang mampu memesona setiap siapa yang melihatnya, tak lebih hanya sebagai nuansa estetika seni dan kemashuran sejarahnya saja, kurang mampu dipahami sebagai makna dan fungsi yang seharusnya mampu ‘hidup’ secara lebih berarti dalam jiwa manusia.
            Dari berbagai hasil penelitian, telah banyak terbukti bahwa Emosi dan Jiwa memiliki peran yang lebih signifikan dibanding kecerdasan intelektual. Kecerdasan otak barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan. Dibutuhkan unsur lain untuk menyeimbangkan kehidupan, dan jiwa spiritual adalah penyeimbangnya.
            Kecerdasan tertinggi manusia sebenarnya berpusat dalam spiritual jiwa rohaninya, karena spiritual adalah landasan kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain

MAKNA SANTRI

            Santri sendiri memiliki makna yang berbeda-beda. Santri bisa dari bahasa sanksekerta, bisa juga dari bahasa jawa. Banyak sumber yang memaknai arti santri itu sendiri. Tapi, pemaknaan santri yang lebih sesuai adalah makna dari bahasa arab. Sin Nun Ta Ro.
Sin, Satrul’Aurah : Menutup Aurat
Nun, Naibul Ulama : Wakilnya orang berilmu
Ta, Tarkul Ma’siyah : Meninggalkan maksiat
Ro, Roisul Ummah : Pemimpin Umat
Santri, pada dasarnya tidak akan pernah lepas dari seni dan spiritual, karena dua sifat itu sudah jelas-jelas melekat dalam jiwa mereka. Seperti halnya membaca Al-quran dengan suara yang merdu. Suara yang merdu adalah seni. Keindahan dalam pembacaannya. Dan Membaca Al-quran, sebagai cara kita untuk medekatkan diri kepada tuhan yang maha kuasa.
            Perlu diketahui, segala macam ibadah yang kita laksanakan itu mengandung unsur seni, mulai dari gerakan shalat, kiroatul quran dan berbagai macam lainya. Dengan niat yang benar, kita akan lebih mudah untuk melaksanakan ibadah.
            Seni dapat mempersatukan umat dengan mudah untuk melakukan ibadah. Dengan acara maulidan dan lantunan tepukan marawis dan hadroh bisa mengiringi nada yang lebih indah.
Seseorang yang sudah memiliki jiwa spiritual cenderung hidupnya akan lebih tenang. Mudah untuk menjalani hidup dan perintah agama. Sabar mengahadapi cobaan dan menysukuri setiap kenikmatan

SENI DALAM KEHIDUPAN SANTRI
            Santri, tidak hanya bisa membaca kitab gundul tapi juga bisa menguasai kesenian lainya, karena mereka tidak hanya mendalami agama islam saja. Di zaman yang sudah modern ini. Banyak santri yang sedikit demi sedikit mempelajari setiap kesenian yang ada. Bahkan sudah banyak santri yang terkenal karena seni yang dia apresiasikan. Mulai dari pelukis, penyanyi, grup band dan masih banyak lagi.
            Mungkin benar santri lebih identik dengan agama, tapi tidak menutup kemungkinan santri bisa menguasai kesenian lain yang berbau barat. Kesenian yang dipelajari adalah ilmu. Bukankah Rosulullah pernah bersabda. “Tuntunlah ilmu sampai ke liang lahat”. Jadi tidak ada batasan untuk mempelajari sesuatu. Selama itu baik untuk diri sendiri dan sekitar, selama kita masih memiliki waktu dan selama kita masih mempunyai semangat. Dan memanfaatkan ilmu serta menyebar luaskannya akan mendapatkan pahala lebih yang akan terus mengalir selama ilmu itu masih di praktikan.

SISI LAIN SANTRI

            Bukan berarti santri yang memiliki kebiasaan lain dari yang lain itu aneh. Bukankah sudah jelas, Banyak cara untuk beribadah. Seperti bangun di waktu pagi sebelum pagi, dalam waktu seperti itu, banyak dari santri yang melakukan pendekatan spiritual kejiwaan rohani dan batin agar bisa lebih dekat lagi dengan sang  maha pencipta
            Santri, memang memiliki sedikit keunggulan dalam hal agama, meskipun begitu, santri tetaplah manusia biasa yang tak akan pernah luput dari kelalaian. Karna ada saja santri yang sengaja maupun tidak sengaja melakukan perbuatan maksiat. Antara keterpaksaan dan kebutuhan menjadi dorongan kuat untuk melakukan maksiat. Itu dikarenakan jiwa spiritual dan keimanan santri masih tidaklah kuat untuk menghadapi godaan. Di bulan ramadhan ini, alangkah baiknya kita untuk meminimalisir maksiat, bila perlu menjauhi maksiat dan berusaha mencari keridhoan Allah Azza Wa Jalla.
            Selama bulan ramadhan, bukanlah godaan setan yang menyerang keimanan kita. Akan tetapi hawa nafsu yang berada didalam diri kita yang mendorong untuk melakukan maksiat. Mendekatkan diri kita kepada sang maha pencipta akan membuat keimanan kita semakin kuat dan terlindung dari segala macam hal yang buruk.

Tujuan Santri
           
            Seseorang yang telah lulus dari pesantren memang memiliki kebebasan dalam hal memilih tujuannya di masa depan. Tetapi, akan lebih baik lagi jika santri yang lulus menempatkan dirinya sebagai pemimpin umat masa depan, karena secara tidak langsung, seseorang yang telah menjadikan dirinya sebagai seorang santri memiliki potensi menjadi penerus para alim ulama.