Sunday, October 6, 2013

Aku Pasti Bisa

Malam ini aku tengah mengulang-ulang membaca buku untuk mempersiapkan perlombaan cerdas cermat esok hari, perlombaan ini diadakan untuk memperingati Agustusan di kampungku. Perlombaan ini sengaja diselenggarakan oleh Pak Dudi selaku Kepala Camat dikampungku guna untuk meningkatkan pengetahuan anak tentang kemerdekaan Indonesia. Hatiku berdebar kencang dan gelisah akan moment mengerikan yang akan datang itu, karena melihat fisikku aku bukanlah anak yang biasa seperi yang lainnya, dan kehidupanku hanyalah kehidupan yang sangat sederhana, sekolah pun tidak, karena factor biaya lah yang menjadi factor utamaku. Untuk makan sehari pun harus membantu ibuku mencari barang bekas untuk ditimbang dan ditukar dengan beras. Walaupun aku tak punya ayah, tapi aku bersyukur mempunyai ibu yang begitu kuat untuk menjalani pahitnya kehidupan ini.
“Andaikan Ayahku masih berada dalam pelukanku, aku dan Ibu tidak akan seperti ini” Khayalan itu seketika terlintas dalam benakku. Tapi aku harus bersyukur atas semua ini, Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuannya. Ibu melihatku dan menegurku.
“Nak..,sudahlah …sekarang sudah malam bersegeralah tidur….”
“Tapi bu…,aku belum membaca buku lagi setelah tadi aku memungut barang bekas selama bersama Ibu, aku hatus buktikan walaupun aku tidak sekolah, tapi aku bisa menjawab pertanyaan itu..”
Aku kumpulkan hasil buku pungutanku. Setiap hari ada saja satu atau dua buku yang bisa aku ambil dan aku manfaatkan untuk belajar di rumah. Aku iri dengan teman-temanku yang sekolah, mereka bisa belajar, bermain, dan berbagi pengalaman dengan temannya, sedangkan aku……? Aku adalah seorang anak yang tidak seberuntung mereka.” Tapi aku yakin disetiap ada kemauan pasti ada jalan “ itu ucapan sahabat karibku yang aku sayangi dan sekarang dia sudah berpindah ke Bandung.
Ditengah keheningan malam, aku mencoba membaca dan memahaminya, ala kadar buku yang aku punya. Mengapa aku memberanikan untuk mengikuti lomba ini? Karena aku tahu, aku itu bisa tidak ada yang tidak mungkin didunia ini, aku hanya ingin melihat ibuku bahagia bahwa anaknya pun bisa ikut lomba cerdas cermat itu, walaupun kesehariannya hanya memungut barang bekas. Hanya lampu minyak, bantal dan tikar yang sederhanalah menemaniku belajar saat ini. Aku merasakan betul kehenuingan malam pada saat itu. Keyakinan hatikulah yang bisa membuat seperti ini, aku yakin aku pasti bisa.
Sesungguhnya kesuksesan itu tidak terlepas dari dua hal, yaitu usaha dan doa. Pukul 12.00, ketika aku bergegas keluar untuk menimba air. Aku ingin berwudhu dan melaksanakan shalat hajat, akan aku adukan semua ini, curahan hati ini pada-Nya.
“Ya Rabb…., karena sesungguhnya Engkau tidak tidur dan tidak mati”
Selesai shoalat pun aku meluruskan tubuhku untuk beristitahat dan mempersiapkan tuk esok hari.
“Ya Allah.., berikanlah kelapangan dan petunjuk-Mu esok hari kepadaku” Kupanjatkan doa dalam hatiku sebelum memejamkan mataku ini.
“ibu …. Bangun……,subuh sudah tiba….,! Ayo kita shalat berjamaah bu…!”
“ia nak..,kita ambil air wudhu terlebih dahulu” selepas shalat subuh pun aku meminta ridho Ibu-ku.
“ibu.. Anang meminta doa Ibu untuk Anang hari ini bu “
“ya nak…, Ibu selau mendukungmu nak.. semua orang tua pasti akan selalu mendoakan anaknya yang terbaik untuk anaknya. Doa Ibu selalu menyertaimu anakku….”
Ibu memelukku dan tak terasa air mata Ibu membasahi rambut saat itu dan Ibu pun mencium keningku serta mengusap kepalaku dengan usapan yang sangat lembut. Perlombaan cerdas cermat ini dibagi menjadi tiga kelompok. Aku beserta Imam dan Budi “(kelompok A) dan lawanku tidak kalah hebatnya, mereka terbagi kepada kelompok B dan C. Mereka pun anak-anak pilihan yang berprestasi.
Dimulai satu persatu pertanyaan dilemparkankepada kami. Babak satu dan dua telah berlalu dan diakhiri dengan babak kedua score yang menyamai, kelompokku dan kelompok C. Suasana pun semakin tegang, warga sekitar memberikan semangat kepada kami. Aku melihat Ibu disudut kiri ruangan, tangannya seperi memeluk dan memanjatkan doa, walaupun wajahnya pun penuh dengan harapan. Dan pertanyaan penentuan pun dilontarkan oleh Pak Dudi, sungguh pertanyaan itu membuat semua orang terpanah dengan ketegangan yang menjadi-jadi.
“Kapan Negara Indonesia merdeka?” Ini merupakan pertanyaan yang sangat mudah, tapi sungguh membuat hati berdebar begitu dahsyat. Bismillahirrahmaanirraahiim…, dalam hatiku berdetak dan yakin menjawabnya..
“17 Agustus tahun 1945…”  Dengan mengancungkan tangan dan suara yang lantang, aku pun berusaha menjawabnya.
“ya betul…!!” Pak Dudi pun memberikan senyuman kebahagiaan dan tepuk tangan diakhir perlombaan ini sudah ditentukan. Aku dan teman-temanku mendapatkan sebuah piala beserta sertifikat yang membanggakan.
“Juara Satu Lomba Cerdas Cermat Kec. Sukmajaya” Alhamdulillah aku bisa pun bisa membuktikannya.
“ Ya Allah…, sesungguhnya semua itu tidak lepas dari dua hal, yaitu berusaha dan berdoa “



@lut26.com