Sunday, October 6, 2013

Biografi Taufiq Kiemas

NamaLengkap: Taufiq Kiemas
Alias:Kiemas| Taufik
Profesi: Politisi
Agama: Islam
TempatLahir: Jakarta
TanggalLahir: Kamis,31Desember 1942
WargaNegara: Indonesia
Anak: PuanMaharani
Istri : Megawati Soekarnoputri
Karir: Ketua MPR 2009-2014
            Anggota DPR periode 1987-1992, 2004-2009 dan 2009–2014


Taufiq Kiemas adalah ketua MPR RI tahun 2009-2014. Taufiq juga bergelar Datuk Basa Batuah merupakan seorang keturunan Palembang-Minangkabau.  Ayahnya adalah seorang guru yang pergi merantau ke Palembang. Sedangkan ibunya, Hamzathoen Roesyda, berasal dari kanagarian Sabu, Batipuah Ateh, Tanah Datar, Sumatera Barat.
Politikus Indonesia yang pernah menduduki posisi sebagai Bapak Negara RI ke-5 ini sempat menjadi anggota DPR RI selama dua periode berturut-turut dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk daerah pemilihan Jawa Barat II, yaitu untuk masa bakti 1999-2004 dan 2004-2005.
Taufiq aktif berorganisasi di bawah bendera Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang didirikan istrinya, Megawati. Saat ini,politisi yang juga pernah menjabat Dewan Kehormatan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PP PA GMNI) ini menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-12 untuk masa bakti tahun 2009 hingga 2014. Jabatan ini diemban Taufiq merangkap sebagai Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDI-P.
Tepat bersamaan dengan ulang tahun ke-70, Taufiq Kiemas meluncurkan biografinya yang berjudul Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam. Buku setebal 471 halaman itu berisi perjalanan hidup Taufiq Kiemas sejak kecil, besar di Yogyakarta, dan mulai masuk di kancah politik nasional, hingga menjadi ketua MPR.

Kehidupan Taufik Kiemas

Taufik kiemas  Dilahirkan pada 31 desember1942 di era pergolakan melawan penjajahan Jepang dan dibesarkan di saat agresi militer Belanda II membuat Taufiq Kiemas tumbuh menjadi anak yang berani dan berjiwa nasionalis. Meski dibesarkan dalam keluarga Masjumi, Taufiq selalu disekolahkan di sekolah yang sekuler, tempat anak-anak dari berbagailatarbelakangberkumpul.
"Di masa-masa remaja itu, Taufiq belum begitu tertarik mengikuti soal-soal politik," tulis Rustam F Mandayun, Muhammad Yamin, Helmy Fauzy dan Imran Hasibuan dalam buku "Jembatan Kebangsaan: Biografi Politik Taufiq Kiemas" yang diluncurkan Kamis 19 Februari 2009.
Saat bersekolah di Sekolah Menengah Atas II Palembang, Taufiq malah membentuk gang anak muda yang diberi nama Don Quixotte. Sesuai namanya yang mengambil tokoh utama novel klasik Miguel de Cervantes, mereka bercita-cita menaklukkan dunia. Tapi kegiatan utama gangnya tak jauh-jauh dari pesta dan hura-hura.
Sampai suatu waktu, 19 Agustus 1960, Taufiq mendengarkan pidato Presiden Soekarno yang berpidato menyatakan secara resmi membubarkan Masjumi dan Partai Sosialis Indonesia di hadapan pengurus dua partai itu. "Hebat juga presiden yang satu ini, membubarkan partai politik langsung di depan para pemimpin partai tersebut," kata Taufiq seperti diceritakan dalam buku biografinya.
Sejak itu, Taufiq malah penasaran dengan Soekarno dan pemikirannya. Buku-buku Bung Karno dilahapnya ketika masih duduk di bangku SMA. Tapi Taufiq hanya bisa mengagumi Soekarno diam-diam karena bapaknya sendiri adalah korban dari kesewenang-wenangan politik Proklamator itu.

Ketika Taufiq masuk Fakultas Hukum, kekaguman Taufiq pada Soekarno bertemu penyalurannya. Ketua perploncoan yang juga aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia, Djohan Hanafiah, mendengar cerita tentang Taufiq yang populer dengan gang Don Quixotte-nya. "Begitu tahu Taufiq ikut perploncoan, Djohan dan pengurus GMNI Palembang segera saja memutuskan merekrut Taufiq." Mereka berpikir, Taufiq akan menjadi darah segar yang bisa mendinamisir GMNI.
Tanpa pikir panjang, Taufiq bergabung dengan GMNI. Misi Taufiq sederhana: ingin suatu saat bisa memimpin PNI dan dekat dengan Soekarno yang diidolakannya. "PNI itu kan partai orang Jawa. Aku ingin tunjukkan bahwa orang Sumatera juga bisa memimpin partai orang Jawa," kata Taufiq. Dan pikiran Djohan ternyata benar, karena tak lama setelah Taufiq bergabung, rekan-rekan segangnya ikut bergabung dalam GMNI meski kebanyakan latar belakang mereka dari keluarga Masjumi.
Sementara di rumah, Tjik Agus Kiemas yang mendengar anaknya, Taufiq Kiemas, masuk GMNI kaget dan sedih. Aktivis Masjumi itu sempat menangis sedih mengetahui Taufiq bergabung dengan GMNI. "Sang ayah tak habis pikir, mengapa Taufiq memilih masuk GMNI, bukan organisasi kemahasiswaan yang berasaskan Islam seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)."
Akhirnya sang ayah bisa memaklumi pilihan politik anak sulungnya itu. Tjik Agus hanya berpesan agar Taufiq siap dengan pilihannya itu. Hubungan ayah dan anak itu akhirnya membaik lagi. Setelah itu bahkan Taufiq menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul aktivis GMNI Palembang.beliau menjabat sebagai anggota DPR periode 1987-1992,2004-2009, dan 2009-2014.dan sebagai ketua MPR periode 2009-2014

Kesehatan dan Wafat
Taufiq Kiemas menderita gangguan jantung dan ginjal. Ia pernah menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung di  rumah sakit harapan kita Jakarta  pada Oktober 2005 dan dirawat selama dua minggu lebih. Pada 17 desember 2011 ia menjalani operasi pergantian baterai alat pemacu jantung  di  rumah sakit harapan kita
Setelah menjalani perawatan di Singapore General Hospital,Singapura pada hari Sabtu, 8 juni 2013 pukul 19.05 waktu setempat, Taufiq Kiemas meninggal dunia di Singapore General Hospital akibat gangguan ginjal. Jenazahnya dishalatkan di hanggar Landasan Udara Halim Perdanakusuma sebelum dimakamkan  secara militer pada 9 uni2013 di Blok M 114, Taman Makam Pahlawan Kalibata di samping makam  kedua orang tuanya.


                                                                                                                                                                @red,maherd